09 December 2003

obrolan suatu malam

Temanku yang satu ini luar biasa. Sampai sekarang aku gak habis pikir darimana dia mendapatkan energi sebesar itu. Semangatnya tak pernah pupus menyulut bara-bara perlawanan pada tiap komunitas yang ditemuinya.

“Lo sadar gak sih, Mbonk. Situasinya genting lho. Militer dan Orba sekarang ada dimana-mana. Gua kemarin ditelpon temen gua. Dia sekarang jadi operator Cendana. Dia minta bantuin gua untuk Tutut masuk ke korban gusuran. Gila! Dia pikir gua udah gak waras apa?” dia bicara berapi-api seperti biasanya.

“Sekarang coba lo pikir,” dia melanjutkan, “Kekuatan mana yang betul-betul reformis sekarang ini. Siapa yang betul-betul melanjutkan perjuangan kita kemarin. Kita mahasiswa memang betul-betul bodoh. Kita seharusnya tidak ragu melakukan revolusi saat itu. Sekarang, kalau kita gak segera bergerak, semuanya akan terlambat. Gerakan restorasi yang mereka lakukan sungguh sempurna. Mereka menjelma seperti siluman dan ada dimana-mana,” abu rokoknya yang panjang pada batang Marlboro di sela jarinya jatuh di celananya yang kumal. Dia mengibaskannya asal.

“Kita harus segera melakukan konsolidasi,” dia belum berhenti. Disulutnya lagi sebatang rokok. “Dan, menyiapkan agenda aksi perlawanan. Situasinya sudah sangat genting. Mereka menyusup sedemikian rupa dan kita telah tercerai berai. Partainya Hartono itu mesin cuci uang,” dia menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Bagaimana pendapat lo?,” tanyanya.
“Blis, apa sih kekhawatiran real dari kembalinya mereka, militer dan orba?” aku balik bertanya.
“Represifitas dan otoritarianisme!”
“Lo yakin bahwa masyarakat bodoh dan struktur demokrasi yang ada sekarang tidak bisa menjadi kontrol atas kekhawatiran itu?”
“Kita pantas khawatir karena tak ada respon secuil pun tentang kemunculan Hartono dan Tutut. Megawati tidak memuaskan. Kebijakan-kebijakan tidak ada yang berpihak pada masyarakat. Rakyat kecewa. Kerinduan akan masa lalu pelan-pelan tumbuh subur. Ini titik kritis!”
“Apa yang rakyat pahami tentang demokrasi, represifitas, dan otoritarianisme? Bukankah yang penting bagi mereka bisa beli beras murah, ongkos gak naik, lapangan pekerjaan banyak, gak ada gusuran….”
“Itu, Mbonk…itu! Kita harus membumikan gagasan-gagasan kita tentang demokrasi, represifitas, dan otoritarianisme ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita harus menterjemahkan itu semua dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Gerakan kita harus kita bangun dari sana.”
“Dari mana kita memulainya?”
“Kita kumpulin lagi kawan-kawan 98.”
"Trus?"
"Kita omong-omong aja dulu, brainstorming."
"Trus?"
"Kita lihat, apa yang bisa kita lakukan dari sana."

Aku menuangkan teh poci yang cukup lama aku diamkan. Teh poci. Ya, teh poci. Dengan siapapun aku nongkrong di tempat itu, aku selalu pesan minuman beraroma ini. Lumayan masih hangat. Aku sempat khawatir obrolan kami membuat teh ini menjadi dingin. Aku menyukai teh yang jenis ini. Teh celup bagiku terasa hambar. Meski produsen sebuah perusahaan teh mati-matian mencitrakan produknya sebagai simbol kebersamaan, bagiku ini soal rasa, bukan citra yang dikesankan.

“Lo gak pengen cari kerjaan yang lebih baik, Blis?” sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutku.
“Maksud lo pindah ke perusahaan yang lebih kapitalis?” dia tertawa sesaat untuk kemudian tersenyum kecut.
“Cukuplah 1,2 juta ini buat gua,” sambungnya. “Gua gak ingin dibeli terlalu jauh oleh kaum kapitalis.”
“Tapi kan suatu saat nanti lo akan menikah, mikirin rumah, punya anak, biaya susu, sekolah, dan lain-lain.”
“Mbonk,” dia menggeser tubuhnya dan menatapku tajam. “Gua miskin sejak gua kecil. Gua pernah dipenjara. Kehidupan ini telah merampas semuanya dari gua, tapi gak ada yang bisa merampas hati dan semangat gua. Kalau kemudian gua menggadaikan idealisme ini, apa lagi yang gua punya?”

Aku terdiam. Tahun 1995 temanku, Iblis –demikan kami memanggilnya–, ditahan lima hari oleh tentara. Tuduhannya menghina kepala negara. Di ruang interogasi, orang-orang berperawakan kekar berambut cepak menuntut penjelasan atas foto-foto yang mereka buat pada kamar mandinya. Pada dinding kamar mandinya ia memasang foto Soeharto. Di bawah foto itu, ia merangkai huruf-huruf yang diambilnya dari potongan-potongan surat kabar: “orang tua ini hanya pantas berada di ruangan ini”. Bagian yang paling pribadi dalam hidupnya dirampas. Tahun 1996, ia kembali ditahan empat bulan. Tuduhannya: dalang kerusuhan 27 Juli.

01 December 2003

here i am

Here I am...

...Will You send me an angel

Here I am...

...or Jibril I need you to come

take me to the stars

27 November 2003

saya tidak suka senja

Senja Gunung Salak. Aku memandangnya sore kemarin dari sebuah kafe di kawasan Paledang, Bogor. Sepertinya aku tidak menyukai senja, meski Seno* selalu bicara seperti mengagungkan senja.

Bagiku senja seperti seorang pencuri. Ada sesuatu yang hilang dari diriku tiap kali memandang semburat jingga itu di atas mega-mega. Ada rasa miris yang sulit dilukis. Sunyi yang mencekam, menggigit jantungku.

Matahari bersembunyi di balik bukit seperti menyembunyikan sesuatu. Sinarnya yang jingga seperti ejekan sebelum dia lenyap dan hari menjadi gelap. Malam tanpa bulan dan bintang. Gerimis jatuh membawa angin dingin. Senja berubah menjadi ngilu merayap pada tulang sendiku.

-------------------------
Seno Gumira Ajidarma banyak menulis cerita tentang senja. Dia mendeskripsikan senja dengan teliti. Pada sebuah ceritanya dia menggambarkan senja dengan bias matahari yang menerobos dedaunan seperti jalinan benang-benang tipis.

25 November 2003

sad massages at night

several days ago, my phone "nutnut" for received two massages.

mbonk, ini k***a! gue tau
lo bukan orang yang religius.
tapi, gue mo minta tolong bisa gak?
tolong beritahu temen-temen lo
yang religius untuk novena
3x salam maria selama 9 hari berturut-turut jam 6

sender: 0811881***

intensinya: untuk nyokap gue.
dia kena kanker stadium lanjut
usus besar, paru2+hati.
dokter udah angkat tangan.
I'm trying to believe miracle here.
please help, tengkyu

sender : 0811881***


k***a, gue gak ingin ngibulin elo dengan bilang
gue bakalan bisa novena jam 6. but, I'll do it
at 00.00. be strong man

send to: 0811881***


thank's mbonk! I appreciate it a lot.
lucu deh…
tiap orang yang mereply sms gue tadi
SEMUANYA mengakhiri sms dengan
"be strong man". seakan-akan mereka semua
1 orang dengan 1 otak. aneh.


then, I forwarded those massages to my friend


bantuin doa ya…
gue baru dapet sms ini dari temen sma gue.
bokapnya meninggal beberapa tahun lalu
karena kecelakaan.
sekarang nyokapnya lagi kritis

send to : 0815887****


dengan sepenuh hati. nama mamanya siapa?
biar aku doain di kelompok doaku.

sender: 0815887****


k***a, temen gue tanya, siapa nama ibu lo?
mo didoain di kelompok doanya

send to : 0811881***


Antonia Maria Yatnti Samtomo
tengkyu banget, mbonk, tengkyu

sender : 0811881***



for those who believe in God whatever He is called….

for those who believe that no border between religions

for those who believe that reliousity and conscience unify us as human being

let us pray for mama Antonia Maria Yatnati Samtomo and her family

..........
..........
..........


amen.

18 November 2003

kotak pandora

"Aku merasa dekat denganmu, tapi selalu hanya merasa meraba bayang-bayangmu. Ada sesuatu dari dirimu yang tidak dapat aku masuki. Kamu seperti menyimpan sebuah kotak pandora dalam hatimu," begitu suatu hari sahabatku berkata kepadaku. Aku merasa dia seperti sedang mencoba masuk menelisiki hatiku.

Aku hanya tersenyum.
"Kamu bukan orang pertama yang berkata begitu," kataku.
"Aku tidak ingin menyangkal bahwa ada bagian dari diriku yang tidak pernah kuijinkan disentuh oleh orang lain. Sesuatu yang berat, pekat, sekaligus gersang. Aku kerap dibuat sulit bernapas karenanya."

"Aku sahabatmu, kenapa kamu tidak mencoba membaginya denganku?" dia bertanya.
"Apakah kamu yakin kamu bakal sanggup memanggul sebagian isi kotak pandoraku?"
"Aku kira aku sanggup. Bukankah akan menjadi lebih ringan jika sebuah beban ditanggung oleh dua orang?"
"Mungkin kamu sanggup, tapi aku tidak. Beban itu akan menjadi lebih berat ketika aku mulai membukanya dan mengeluarkan isinya."
"Bagaimana kamu bisa berkata begitu. Kamu belum mencobanya untuk berbagi denganku."
"Kamu pasti tidak akan membuktikan bahwa kamu akan mati kalau terjun dari lantai 46," aku menarik napas panjang. Ada sesuatu yang berat di dadaku yang ingin aku lepaskan.

Kamu sahabatku, kataku dalam hati, justru karena kamu sahabatku aku tidak bisa berbagi tentang isi kotak itu. Ada bagian-bagian yang perannya tidak bisa dimainkan oleh seorang sahabat. Pada setiap hal selalu ada garis demarkasi.

Aku teringat perkataan seorang Rabbi. "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan dinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." Aku tidak mengatakan bagian ini padanya. Aku khawatir dia salah mengerti.

Kepekatan itu, dia semakin berat menggantung di langit-langit kamarku, seperti kelembaban yang menghambat tarikan napasku. Aku berusaha tidak mempersoalkan hal ini pada diriku sendiri. Aku menerimanya sebagai bagian dari hidupku, seperti seorang pengembara yang menerima langit sebagai atap rumahnya dan rumput sebagai alas tidurnya.

07 November 2003

cemburu

Temanku bercerita bahwa anjingnya baru saja melahirkan anak tujuh ekor. Enam diantaranya ia berikan kepada teman dan sanak saudara. Hanya satu yang ia rawat sendiri. Ia menamai anjing kecilnya itu Brownie.
“Iiiihhh…lutu banget deh mbonk. Kulitnya coklat semua. Matanya belo,” kata dia menceritakan anjing kecilnya dengan mata berbinar.

Aku sebenarnya sulit membayangkan kelucuan seekor anjing. Pengalaman masa laluku membentuk citra yang negatif atas diri hewan yang kerap disebut mahluk paling setia terhadap tuannya itu. Selucu apapun orang bercerita tentang seekor anjing, bagiku hewan itu menakutkan. Aku lebih senang memakannya daripada mengelusnya. (sadis!).

Temanku melanjutkan ceritanya. Suatu hari pacarnya datang. Namanya Dani, lelaki sederhana dan baik hati. Mereka bercengkerama di ruang tamu. Sambil ngobrol, temanku membawa Brownie dalam pelukannya dan mengelus-ngelusnya dengan kasih. Entah karena merasa diabaikan atau entah karena apa, Dani yang biasanya lembut itu berbicara ketus kepada temanku ini.
“Kok, aku gak pernah dielus-elus semesra itu sih?” Matanya tajam menatap mata Brownie yang sudah kiyep-kiyep mengantuk. Sepertinya Brownie merasakan tatapan tidak bersahabat itu. Matanya membesar dan ia menggonggong.
“Aduh, kamu kenapa sih?” kata temanku kepada kekasihnya itu. “Kamu kan terlalu gede untuk aku gendong-gendong dan aku elus-elus begini.”

Kemudian, dalam kesempatan wakuncar berikutnya, mengetahui bahwa menyertakan Brownie dalam kencan mereka hanya membawa suasana yang tidak mengenakkan, temanku membiarkan Brownie bermain di luar sementara mereka bercengkerama di dalam rumah.

Entah mereka sedang melakukan apa --temanku tidak bersedia menceritakan bagian detailnya meski sudah sedemikian keras aku merayunya—tiba-tiba Si Brownie lari ke dalam rumah sambil menggonggong keras-keras. Ia menggigit sambil menarik-narik ujung celana Dani. Dengan gigitan di ujung celana itu, Dani digiring ke luar rumah. Setelah Dani berhasil di giring ke luar rumah, Brownie berlari ke arah temanku dan dengan sigap melompak ke pangkuannya. Dengan manja ia menggesek-gesekan kepalanya ke dada temanku. Temanku tertawa sementara Dani memandang mereka dengan muka masam dari depan pintu rumah.

“Sekarang gue bingung nih, Mbonk, perselisihan di antara mereka sudah berada pada taraf yang mengkhawatirkan,” ujar temanku. “Bayangkan, mereka saling membuang muka setiap kali berpapasan.”

“What should I do?” she asked me seriously.

“Begini Bel,” terlintas sebuah ide cemerlang di benakku.
“Mendingan kita potong aja si Brownie. Enak tuh, masih muda, dagingnya empuk.”

PLETAAAKK!!!! Sebuah jitakan mendarat di kepalaku.

____________________________________
*sampai detik ini aku masih tidak habis pikir kenapa ideku itu masih dianggap tidak cemerlang…..*