12 May 2004

pergilah ke mana hati membawamu

dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.....Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. lalu, ketika hatimu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.....

va' dove ti porta il cuore

11 May 2004

angin membawa kita pergi

ada kelopak mawar yang mati di sudut taman di depan gubuk itu. daunnya menghitam dan jatuh luruh di atas tanah. sekarang memang bukan musim bunga, bukan musim kekawin, cuma cinta semusim dari hati yang renta. tidak ada yang hilang dari sepotong ingatan yang tak pernah kita kenang. sebab, angin telah membawa kita pergi. aku ke utara. kamu ke selatan.

embun pagi bertebaran di atas rumput saat aku mencium bau laut. di kejauhan aku mendengar kepak camar yang mencicit girang memanggilku pulang. aku membayangi tiang sampan dan sepotong layar dari kain belacu tua berkibar-kibar ditiup angin. Di sini, Ing, di saku baju, persis di sebelah jantungku, masih kusimpan sinar bulan yang kucurikan untukmu kemarin malam.

28 April 2004

have no idea

.....
I have no idea
.....

14 April 2004

tidak ada judul

aku tidak mempunyai judul untuk postingan kali ini. seperti halnya, aku tak menemukan judul untuk sepenggal kisah yang ingin kuceritakan. aku tidak tahu apakah kami duduk di beranda rumah yang sama. kehangatan yang diberikannya setiap sore menelurkan kerinduan untuk selalu mengulangi ritual-ritual yang sama: duduk di samping jendela, menghisap rokok, dan bercerita tentang kisah-kisah sepanjang siang.

entah siapa yang menciptakan sepotong cerita yang kami tidak tahu bentuknya ini. percayalah, aku tidak pernah mempretensikan semua ini terjadi. serpihan-serpihan cerita ini datang satu per satu, terbang dibawa angin, dan hinggap di pangkuanku. percayalah, tidak ada api yang membakar dan hasrat yang memburu. tiba-tiba saja muncul bara dan kehangatan itu menjalar di batinku.

sejak awal aku selalu mengatakan, ini cuma sebentar. ini cuma perhentian melepas penat. jika saatnya tiba, entah kapan, kami akan pergi lagi sendiri-sendiri. aku mungkin ke utara. dia mungkin ke selatan. aku tidak ingin berharap bahwa kami akan melanjutkan perjalanan ini berdua, seperti halnya aku tidak pernah berharap bahwa kami akan bertemu di perhentian ini. angin yang membawa cerita ini datang, biar pula angin yang membawanya pergi.

08 April 2004

........

sepi yang menggigit jantungku
seperti pisau
yang kau tancapkan
pada urat nadiku





(Ia merasa sedih, takut, dan kesepian.
"Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya."

"Ya Bapa, jika Engkau berkenan, biarlah cawan ini berlalu daripadaku; tetapi bukan menurut kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.")

-Kamis Putih yang sepi-

03 April 2004

kita harus share dengan Tuhan

Kita harus share dengan Tuhan. Ya, ada bagian-bagian dalam hidup ini yang harus kita share dengan Tuhan. Kita cuma bintang kecil dari sebuah ledakan besar. Meski kita bintang kecil yang hidup, itu gak boleh membuat kita sombong, karena toh kehidupan si bintang kecil itu juga datang dari-Nya. Terimakasih Tuhan, karena bintang kecil kau berikan ruang untuk ikut serta menggoreskan takdirnya sendiri.

Kita harus share dengan Tuhan, karena hidup tidak selalu menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kita seringkali berada pada titik-titik kehidupan di mana rasionalitas kita tidak mampu untuk memahaminya.

Kita harus share dengan Tuhan, karena selalu ada garis demarkasi atas kemanusiaan kita. Kita tidak bisa melewati batas garis itu. Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa ada ruang-ruang dalam hidup kita yang bukan merupakan kewenangan kita untuk menentukannya. Biarkan ruang-ruang itu tetap menjadi milik-Nya. Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak-Nya; dan berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar.

Dan kau, Ing, berdiri di seberang garis batas itu. Kau sunggingkan senyum dan rambutmu berkibar-kibar ditiup angin. Sosokmu serupa kabut di remang cahaya bulan.

Ing,...
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Sebaris doa tanpa asap dupa dan wangi bunga
Angin datang membawa cinta,
dan wajahmu mengendap di kepala

Ing,...
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Cuma sebaris doa
Semoga angin membawamu pulang
Dengan seikat bunga