06 January 2005

Selamat Tahun Baru 2005

Selamat Tahun Baru 2005.Tahun baru beriring duka dan airmata, beriring lolong tangis kematian. Aku diam dan menatap langit. Ada gemericik kembang api memecah sekali-sekali. Langit menjadi terang dan kemudian gelap lagi. Samar tapi tegas aku melihat bayangan sayap-sayap kabut melukis dinding malam yang gelap. Sepasang malaikat muncul dari ujung semesta dan menari membentuk garis bintang-bintang. Setetes basah mengalir membentuk sungai pada wajahku. Airmata menjadi anggur pesta dalam alunan kecapi surga.

Jarum-jarum waktu yang berputar pada selempeng bundar bernama jam adalah ilusi. Kematian adalah juga ilusi. Matahari tidak pernah terbenam. Pula, tidak pernah matahari terbit atau lahir. Tidak ada malam. Tidak ada siang. Kita tengah berenang-renang dalam kekinian yang abadi. Sekarang. Di sini. Kekinian yang abadi. Tuhan Maha Besar. Allahu Akbar. Allabare. Alleluia. Pujilah nama Tuhan. Masihkah ada tahun baru ketika kamu tidak lagi memiliki waktu?

13 August 2004

saya mengurus kepulangan Ing

Maaf teman-teman, sekian bulan saya tidak mengurus ruang kecil saya di jagad maya ini. Saya tengah sibuk mengurus kepulangan Ing. Dia pergi lama dan jauh sekali, sehingga ada banyak hal yang harus saya siapkan menjelang kepulangannya. O, iya, kalian juga boleh memanggilnya Iwed. Saya senang memanggilnya Iw-iw. Sekarang dia sudah ada di rumah, di sini, di samping saya. Saya memintanya untuk tidak pergi lagi. Dia berjanji pada saya untuk tidak kemana-mana lagi. “Aku sangat merindukanmu. Dan, aku tidak ingin pergi lagi,” katanya seraya memeluk saya.

Begitulah, akhirnya saya serahkan sinar bulan yang saya curikan untuknya di malam-malam yang saya lewati seorang diri. Lama, saya simpan sinar itu di saku saya. Sekarang sinar bulan itu disimpan di saku bajunya, persis di sebelah jantungnya. Saya senang melihat sinar bulan itu acapkali berpendar di matanya. Ada rasa hangat yang menjalar di nadi saya tiap kali saya memandang mata itu.

Ing, kucurikan untukmu
sinar bulan tadi malam
jangan bilang siapa-siapa
aku menyimpannya di saku baju
persis di sebelah jantungku

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin segera membangun rumah di tepi telaga seperti sering ia bercerita. Saya pernah berjanji mendirikan rumah untuknya di sana. Juga saya pernah berjanji menanam bunga kembang sepatu di depan rumah itu.

Kami ingin menetap selamanya di rumah itu, menikmati semburat jingga pada setiap senja (selain hujan, saya mulai menikmati senja sekarang), membayangkan anak cucu kami tumbuh dan besar di sana. Tidak ada lagi kekosongan pada tiap senja yang jingga. Tidak cuma ada gelap pada langit malam. Tidak cuma ada dingin pada hujan yang jatuh di atas tanah.

Ing, ingin kubangun untukmu sebuah rumah
di tepi telaga seperti sering engkau bercerita

Juga ingin kutanam untukmu
bunga kembang sepatu
yang kan menyapamu
tiap kali kau membuka pintu

Kau buatkan kopi untukku, Ing
dan kita menikmati senja dari beranda rumah itu

01 June 2004

Saya Mencintai Puteri Bungsunya

Semalam, di atas motor, saya berbicara begini pada langit gelap. "Pak Narso, saya ingin bertemu Bapak. Jika Bapak berkenan, hadirlah dalam sebuah kesempatan yang membuat saya tidak takut." Saya membayangkan angin menyampaikan niat hati saya.

Kemudian malamnya saya bermimpi. Seorang lelaki setengah baya dengan rambut yang memutih menghampiri saya yang tengah duduk sendiri di sebuah taman. Saya belum pernah bertemu dengan orang tua ini. Saya hanya pernah melihat fotonya yang di gantung pada dinding kamar.

Dalam mimpi saya, orang tua ini mengenakan pakaian seperti jubah berwarna putih. Airmukanya segar. Seulas senyum yang damai disunggingkan ketika dia mengambil duduk di sebelah saya. Tanpa berbasa-basi saya katakan kepadanya betapa saya sangat mencintai puteri bungsunya. Dia hanya mengangguk, tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak saya sebelum sosoknya lenyap serupa kabut. Ketika saya bangun pagi hari, saya masih merasakan tangannya di pundak saya.

22 May 2004

kamu memakan kupingku, dan aku memakan bibirmu

“Kalau kamu sedang suntuk, kamu boleh memakanku,” Iwed menawarkan tubuhnya untuk aku makan. Tadi siang, ia meminta ijin padaku, apakah dia boleh memakan tubuhku. “Aku lagi sebel, sayang. Aku ingin makan orang. Aku boleh memakan kuping kamu ya…” pintanya merajuk. Aku mengangguk. Dan, dengan lembut, ia memakan kupingku sebelah kanan.

“Tadi siang, aku memilih kupingmu untuk aku makan. Sekarang, kamu mau memakan bagian mana dari tubuhku?” dia bertanya.
“Aku mau memakan bibirmu.”
“Kenapa bibirku?”
“Dari seluruh bagian tubuhmu, aku paling suka dengan bibirmu.”
“Kenapa begitu?”
“Sebab bibirmu bagus. Warnanya merah muda, dan selalu terlihat basah.”
“Hihihihihi...” Iwed tertawa manja. Mukanya tersipu, merona kemerahan.
“Ini, makanlah bibirku. Tapi makannya pelan-pelan ya,” gadis cantik mungil di depanku itu kemudian memejamkan matanya. Bibirnya setengah terbuka menantiku untuk melumatnya. Aku merengkuh kepalanya dengan lembut, membawanya dalam pelukanku. Perlahan, kudekatkan bibirku ke bibirnya.

Belum lagi kusentuh bibirnya, ia membuka matanya.
“Sayang, kalau kamu memakan bibirku, aku nanti tidak punya bibir lagi. Aku hanya memakan satu kupingmu sehingga kamu masih memilikinya satu lagi,” katanya setengah berbisik.
“Kalau begitu, aku hanya akan memakan sebagian saja dari bibirmu. Aku hanya akan memakan bibir bawahmu sebelah kanan saja,” napasku memburu. Jantungku berdegup keras. Tak kutunggu ia memejamkan mata waktu kulumat bibir merah mudanya yang basah. Rasanya manis dan hangat. Aku lupa kalau aku berjanji hanya akan memakan bibir bawahnya sebelah kanan.

12 May 2004

pergilah ke mana hati membawamu

dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.....Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. lalu, ketika hatimu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.....

va' dove ti porta il cuore

11 May 2004

angin membawa kita pergi

ada kelopak mawar yang mati di sudut taman di depan gubuk itu. daunnya menghitam dan jatuh luruh di atas tanah. sekarang memang bukan musim bunga, bukan musim kekawin, cuma cinta semusim dari hati yang renta. tidak ada yang hilang dari sepotong ingatan yang tak pernah kita kenang. sebab, angin telah membawa kita pergi. aku ke utara. kamu ke selatan.

embun pagi bertebaran di atas rumput saat aku mencium bau laut. di kejauhan aku mendengar kepak camar yang mencicit girang memanggilku pulang. aku membayangi tiang sampan dan sepotong layar dari kain belacu tua berkibar-kibar ditiup angin. Di sini, Ing, di saku baju, persis di sebelah jantungku, masih kusimpan sinar bulan yang kucurikan untukmu kemarin malam.