01 May 2007

bening

bening. ya bening sekali. jernih. lepas dan jatuh ke bawah. sulit sekali mencari kebeningan hati belakangan ini. semua orang bicara dalam kekeruhan akalbudi dan mau menang sendiri. seandainya hari pagi bisa dipesan dan kejernihan ini bisa ditanam setiap hari aku mau pesan satu, ups...yang banyak untuk kubagi pada semua orang yang merindukan hati nurani.
Posted by Picasa

07 January 2005

Kerdil

“Kami menolak langkah-langkah adopsi yang dilakukan terhadap anak-anak korban gempa tsunami Aceh. Kami khawatir adopsi merupakan kegiatan pemurtadan secara terselubung.”

Jelas dan terang kalimat itu saya dengar meluncur kata demi kata dari seorang tokoh agama terkemuka. Saya mencatatnya lengkap kata demi kata. Darah saya mendidih!

Lekat saya tatap lelaki tua yang mulutnya mengucapkan kata-kata itu. Ingin sekali saya menamparnya. Betul! Ingin sekali saya menamparnya. Lelaki itu seusia kakek saya dan saya ingin sekali menamparnya.

Di sebelahnya duduk seorang perempuan berkerudung. Ketika saya meminta perempuan itu untuk menuliskan namanya pada notes saya, Ia tulis besar-besar gelar di depan namanya: Prof. Dr. ….. Darah saya makin menggelegak. Saya ingin menampar kedua orang itu. Paduan usia tua dan intelektualitas tidak menjamin orang menjadi dewasa dan bijaksana.

Saya setuju agar tidak dulu dilakukan adopsi terhadap anak-anak itu. Pula, saya setuju agar seyogyianya adopsi dilakukan oleh mereka yang memiliki kultur dan tradisi yang sama. Tapi, kenapa pernyataan permurtadan itu harus sebutkan sebagai konsumsi publik? Sebuah prasangka yang mengendap dalam kekerdilan menyeruak saat semua orang bersatu atas nama kemanusiaan.

Kenapa kita sulit sekali memandang manusia hanya sebagai manusia. Kenapa kita selalu memandang manusia dari atributnya sebagai kelompok ini dan itu. Sepertinya, identitas kelompok itu adalah sesuatu yang paling hakiki mengatasi kemanusiaan kita. Tidakkah bencana ini telah menyatukan seluruh kemanusiaan kita?

Tidak ada orang bule, tidak ada orang melayu. Tidak ada orang hitam, tidak ada orang putih. Tidak ada agama itu dan tidak ada agama ini. Bencana itu tidak saja meluluhlantakkan sebuah kota tapi juga meluluhlantakan seluruh sekat yang selama ini ada, tidak cuma di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

Tidakkah kita telah menyatu dalam satu air mata, air mata kita sebagai manusia. Lukamu saudaraku, dukamu saudaraku, adalah luka dan dukaku; luka dan duka kita; luka dan duka manusia. Belum robohkah juga tembok prasangka yang kerdil itu?


Matamu berlumur darah
karena kau tidak memiliki biji mata
Mulutmu berbusa
karena hatimu adalah air liur serigala
Ada bau busuk dari luka-luka bernanah
yang akut pada langit-langit mulutmu

Kau pikir ada surga
dalam kepalamu yang pecah oleh prasangka
Sesungguhnya, bumi menjadi keji
karena neraka kau lahirkan sendiri
dari rahimmu yang nista.

06 January 2005

Selamat Tahun Baru 2005

Selamat Tahun Baru 2005.Tahun baru beriring duka dan airmata, beriring lolong tangis kematian. Aku diam dan menatap langit. Ada gemericik kembang api memecah sekali-sekali. Langit menjadi terang dan kemudian gelap lagi. Samar tapi tegas aku melihat bayangan sayap-sayap kabut melukis dinding malam yang gelap. Sepasang malaikat muncul dari ujung semesta dan menari membentuk garis bintang-bintang. Setetes basah mengalir membentuk sungai pada wajahku. Airmata menjadi anggur pesta dalam alunan kecapi surga.

Jarum-jarum waktu yang berputar pada selempeng bundar bernama jam adalah ilusi. Kematian adalah juga ilusi. Matahari tidak pernah terbenam. Pula, tidak pernah matahari terbit atau lahir. Tidak ada malam. Tidak ada siang. Kita tengah berenang-renang dalam kekinian yang abadi. Sekarang. Di sini. Kekinian yang abadi. Tuhan Maha Besar. Allahu Akbar. Allabare. Alleluia. Pujilah nama Tuhan. Masihkah ada tahun baru ketika kamu tidak lagi memiliki waktu?

13 August 2004

saya mengurus kepulangan Ing

Maaf teman-teman, sekian bulan saya tidak mengurus ruang kecil saya di jagad maya ini. Saya tengah sibuk mengurus kepulangan Ing. Dia pergi lama dan jauh sekali, sehingga ada banyak hal yang harus saya siapkan menjelang kepulangannya. O, iya, kalian juga boleh memanggilnya Iwed. Saya senang memanggilnya Iw-iw. Sekarang dia sudah ada di rumah, di sini, di samping saya. Saya memintanya untuk tidak pergi lagi. Dia berjanji pada saya untuk tidak kemana-mana lagi. “Aku sangat merindukanmu. Dan, aku tidak ingin pergi lagi,” katanya seraya memeluk saya.

Begitulah, akhirnya saya serahkan sinar bulan yang saya curikan untuknya di malam-malam yang saya lewati seorang diri. Lama, saya simpan sinar itu di saku saya. Sekarang sinar bulan itu disimpan di saku bajunya, persis di sebelah jantungnya. Saya senang melihat sinar bulan itu acapkali berpendar di matanya. Ada rasa hangat yang menjalar di nadi saya tiap kali saya memandang mata itu.

Ing, kucurikan untukmu
sinar bulan tadi malam
jangan bilang siapa-siapa
aku menyimpannya di saku baju
persis di sebelah jantungku

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin segera membangun rumah di tepi telaga seperti sering ia bercerita. Saya pernah berjanji mendirikan rumah untuknya di sana. Juga saya pernah berjanji menanam bunga kembang sepatu di depan rumah itu.

Kami ingin menetap selamanya di rumah itu, menikmati semburat jingga pada setiap senja (selain hujan, saya mulai menikmati senja sekarang), membayangkan anak cucu kami tumbuh dan besar di sana. Tidak ada lagi kekosongan pada tiap senja yang jingga. Tidak cuma ada gelap pada langit malam. Tidak cuma ada dingin pada hujan yang jatuh di atas tanah.

Ing, ingin kubangun untukmu sebuah rumah
di tepi telaga seperti sering engkau bercerita

Juga ingin kutanam untukmu
bunga kembang sepatu
yang kan menyapamu
tiap kali kau membuka pintu

Kau buatkan kopi untukku, Ing
dan kita menikmati senja dari beranda rumah itu

01 June 2004

Saya Mencintai Puteri Bungsunya

Semalam, di atas motor, saya berbicara begini pada langit gelap. "Pak Narso, saya ingin bertemu Bapak. Jika Bapak berkenan, hadirlah dalam sebuah kesempatan yang membuat saya tidak takut." Saya membayangkan angin menyampaikan niat hati saya.

Kemudian malamnya saya bermimpi. Seorang lelaki setengah baya dengan rambut yang memutih menghampiri saya yang tengah duduk sendiri di sebuah taman. Saya belum pernah bertemu dengan orang tua ini. Saya hanya pernah melihat fotonya yang di gantung pada dinding kamar.

Dalam mimpi saya, orang tua ini mengenakan pakaian seperti jubah berwarna putih. Airmukanya segar. Seulas senyum yang damai disunggingkan ketika dia mengambil duduk di sebelah saya. Tanpa berbasa-basi saya katakan kepadanya betapa saya sangat mencintai puteri bungsunya. Dia hanya mengangguk, tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak saya sebelum sosoknya lenyap serupa kabut. Ketika saya bangun pagi hari, saya masih merasakan tangannya di pundak saya.

22 May 2004

kamu memakan kupingku, dan aku memakan bibirmu

“Kalau kamu sedang suntuk, kamu boleh memakanku,” Iwed menawarkan tubuhnya untuk aku makan. Tadi siang, ia meminta ijin padaku, apakah dia boleh memakan tubuhku. “Aku lagi sebel, sayang. Aku ingin makan orang. Aku boleh memakan kuping kamu ya…” pintanya merajuk. Aku mengangguk. Dan, dengan lembut, ia memakan kupingku sebelah kanan.

“Tadi siang, aku memilih kupingmu untuk aku makan. Sekarang, kamu mau memakan bagian mana dari tubuhku?” dia bertanya.
“Aku mau memakan bibirmu.”
“Kenapa bibirku?”
“Dari seluruh bagian tubuhmu, aku paling suka dengan bibirmu.”
“Kenapa begitu?”
“Sebab bibirmu bagus. Warnanya merah muda, dan selalu terlihat basah.”
“Hihihihihi...” Iwed tertawa manja. Mukanya tersipu, merona kemerahan.
“Ini, makanlah bibirku. Tapi makannya pelan-pelan ya,” gadis cantik mungil di depanku itu kemudian memejamkan matanya. Bibirnya setengah terbuka menantiku untuk melumatnya. Aku merengkuh kepalanya dengan lembut, membawanya dalam pelukanku. Perlahan, kudekatkan bibirku ke bibirnya.

Belum lagi kusentuh bibirnya, ia membuka matanya.
“Sayang, kalau kamu memakan bibirku, aku nanti tidak punya bibir lagi. Aku hanya memakan satu kupingmu sehingga kamu masih memilikinya satu lagi,” katanya setengah berbisik.
“Kalau begitu, aku hanya akan memakan sebagian saja dari bibirmu. Aku hanya akan memakan bibir bawahmu sebelah kanan saja,” napasku memburu. Jantungku berdegup keras. Tak kutunggu ia memejamkan mata waktu kulumat bibir merah mudanya yang basah. Rasanya manis dan hangat. Aku lupa kalau aku berjanji hanya akan memakan bibir bawahnya sebelah kanan.