06 September 2008

Trip to Babel (1)

Apa yang menarik dari Bangka Belitung? Babel (Bangka-Belitung) Mendengar nama itu, yang ada di kepala saya hanya tempat penambangan timah yang gersang, panas dan kotor.

“Eit, jangan salah! Daerah itu adalah salah satu tempat terindah di Indonesia yang tidak pernah terkeskspos,” Andrew Mulianto, teman saya dari komunitas Jalansutra menjelaskan.
“Pantainya,” lanjut Andrew, “wuiiiihhhhh,” dia mengangkat dua jempol tangannya.
“Pasirnya putih, halus seperti terigu,” promo dia.

Terus terang, Babel tidak pernah masuk dalam list tempat yang harus saya kunjungi. Tentang makanannya saya hanya tahu Martabak Bangka. Selebihnya yang saya tahu tentang Babel adalah timah dan lada putih. Dalam buku pintar yang isinya wajib dihapal ketika saya di sekolah dasar disebutkan, Pulau Bangka adalah penghasil timah terbesar di Indonesia. Selain itu, pulau tersebut juga dikenal sebagai pulau lada putih. Lada asal Bangka mashyur hingga mancanegara.

Menurut sejarah, nama Bangka berasal dari kata “wangka” yang artinya timah. Entah kapan pulai ini disebut Bangka, yang pasti kata “wangka” tertoreh pada prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di dekat Kota Kapur, Bangkat Barat, bertarikh 686 masehi. Biji timah sendiri baru ditemukan pertama kali di pulau itu sekitar tahun 1709 oleh orang-orang Jahore yang melakukan penambangan pertama di tepi Sungai Olin, Toboali.

Pada masa jayanya, tiga perempat cadangan timah di Indonesia berada di Pulau Bangka. Kini kejayaan timah akan menjadi masa lalu karena potensi yang tersisa makin menipis. Jangan kaget, di Pulau Bangka dan Belitung lubang-lubang bekas penggalian timah mencapai lebih dari 20 ribu hektar luasnya.

Pada tahun 2000 Bangka bersama Belitung dan beberapa kepulauan kecil di sekitarnya melepaskan diri dari Sumatera Selatan dan menetapkan diri sebagai provinsi sendiri. Selat Bangka memisahkan Sumatra dan Bangka, sedangkan Selat Gampar memisahkan Bangka dan Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Tiongkok Selatan. Sementara di selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Belitung oleh Selat Karimata.

Usai kejayaan timah, nampaknya Provinsi muda ini perlu mempromosikan diri lebih gencar tentang keelokan dirinya. Tentang Belitung, Bondan Winarno dalam salah satu artikel Jalansutra pernah menulis, konon pulau ini adalah patahan Pulau Bali, Balitong. Seorang ahli geografi Belanda menyebut Biliton. Lafal lidah Melayu kemudian mengucapkannya sebagai Belitung.

Andrew tidak berlebihan ketika mempromosikan pantai di kepulauan Babel ini. Beberapa referensi yang saya baca juga menyebutkan Babel terkenal dengan 3S: Sea (laut), Sand (pasir pantai), dan Sun (matahari). Pantai-pantai di Babel elok nian dengan pasir putih berhias taburan batu granit.

Ada lagi yang unik di sana. Di Bangka dan Belitung lubang-lubang sisa penambangan timah disebut kolong. Setidaknya ada lebih dari 1.000 kolong di Pulau Bangka dan Belitung. Luasnya beragam, dua hingga 50 hektar. Ada satu kolong yang terkenal di Pulau Bangka. Namanya Phak Kak Liang. Lubang besar bekas penambangan timah seluas kurang lebih dua hektar diubah menjadi tempat wisata. Dari Gazebo yang ada di tengah kolong kita bisa melihat ikan-ikan air tawar yang besar-besar hilir mudik. Panjang ikan-ikan itu banyak yang mencapai satu meter. Ikan-ikan itu tidak boleh dipancing.

“Kalau ingin makan ikan ada Seafood yang jempolan. Nanti saya beritahu,” janji Andrew. Banyak makanan enak jugakah di Provinsi muda ini? Soal makanan ternyata tidak hanya martabak Bangka. Ada lempah dan gangan. Untuk selera Belitung ada dodol agar, panpi goreng, sambelingkung, gangan ikan, kue rintak, mie rebus, terasi, tauco, rusip, dan genjer.

Jadi, adakah yang menarik di Bangka Belitung? Sssstttt....nanti saya ceritakan komplit. Saya harus berangkat dulu ke sana. Tidak jauh. Hanya 45 menit penerbangan dari Jakarta. Jangan kemana-mana, stay tune di MakPles!

01 May 2007

bening

bening. ya bening sekali. jernih. lepas dan jatuh ke bawah. sulit sekali mencari kebeningan hati belakangan ini. semua orang bicara dalam kekeruhan akalbudi dan mau menang sendiri. seandainya hari pagi bisa dipesan dan kejernihan ini bisa ditanam setiap hari aku mau pesan satu, ups...yang banyak untuk kubagi pada semua orang yang merindukan hati nurani.
Posted by Picasa

07 January 2005

Kerdil

“Kami menolak langkah-langkah adopsi yang dilakukan terhadap anak-anak korban gempa tsunami Aceh. Kami khawatir adopsi merupakan kegiatan pemurtadan secara terselubung.”

Jelas dan terang kalimat itu saya dengar meluncur kata demi kata dari seorang tokoh agama terkemuka. Saya mencatatnya lengkap kata demi kata. Darah saya mendidih!

Lekat saya tatap lelaki tua yang mulutnya mengucapkan kata-kata itu. Ingin sekali saya menamparnya. Betul! Ingin sekali saya menamparnya. Lelaki itu seusia kakek saya dan saya ingin sekali menamparnya.

Di sebelahnya duduk seorang perempuan berkerudung. Ketika saya meminta perempuan itu untuk menuliskan namanya pada notes saya, Ia tulis besar-besar gelar di depan namanya: Prof. Dr. ….. Darah saya makin menggelegak. Saya ingin menampar kedua orang itu. Paduan usia tua dan intelektualitas tidak menjamin orang menjadi dewasa dan bijaksana.

Saya setuju agar tidak dulu dilakukan adopsi terhadap anak-anak itu. Pula, saya setuju agar seyogyianya adopsi dilakukan oleh mereka yang memiliki kultur dan tradisi yang sama. Tapi, kenapa pernyataan permurtadan itu harus sebutkan sebagai konsumsi publik? Sebuah prasangka yang mengendap dalam kekerdilan menyeruak saat semua orang bersatu atas nama kemanusiaan.

Kenapa kita sulit sekali memandang manusia hanya sebagai manusia. Kenapa kita selalu memandang manusia dari atributnya sebagai kelompok ini dan itu. Sepertinya, identitas kelompok itu adalah sesuatu yang paling hakiki mengatasi kemanusiaan kita. Tidakkah bencana ini telah menyatukan seluruh kemanusiaan kita?

Tidak ada orang bule, tidak ada orang melayu. Tidak ada orang hitam, tidak ada orang putih. Tidak ada agama itu dan tidak ada agama ini. Bencana itu tidak saja meluluhlantakkan sebuah kota tapi juga meluluhlantakan seluruh sekat yang selama ini ada, tidak cuma di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

Tidakkah kita telah menyatu dalam satu air mata, air mata kita sebagai manusia. Lukamu saudaraku, dukamu saudaraku, adalah luka dan dukaku; luka dan duka kita; luka dan duka manusia. Belum robohkah juga tembok prasangka yang kerdil itu?


Matamu berlumur darah
karena kau tidak memiliki biji mata
Mulutmu berbusa
karena hatimu adalah air liur serigala
Ada bau busuk dari luka-luka bernanah
yang akut pada langit-langit mulutmu

Kau pikir ada surga
dalam kepalamu yang pecah oleh prasangka
Sesungguhnya, bumi menjadi keji
karena neraka kau lahirkan sendiri
dari rahimmu yang nista.

06 January 2005

Selamat Tahun Baru 2005

Selamat Tahun Baru 2005.Tahun baru beriring duka dan airmata, beriring lolong tangis kematian. Aku diam dan menatap langit. Ada gemericik kembang api memecah sekali-sekali. Langit menjadi terang dan kemudian gelap lagi. Samar tapi tegas aku melihat bayangan sayap-sayap kabut melukis dinding malam yang gelap. Sepasang malaikat muncul dari ujung semesta dan menari membentuk garis bintang-bintang. Setetes basah mengalir membentuk sungai pada wajahku. Airmata menjadi anggur pesta dalam alunan kecapi surga.

Jarum-jarum waktu yang berputar pada selempeng bundar bernama jam adalah ilusi. Kematian adalah juga ilusi. Matahari tidak pernah terbenam. Pula, tidak pernah matahari terbit atau lahir. Tidak ada malam. Tidak ada siang. Kita tengah berenang-renang dalam kekinian yang abadi. Sekarang. Di sini. Kekinian yang abadi. Tuhan Maha Besar. Allahu Akbar. Allabare. Alleluia. Pujilah nama Tuhan. Masihkah ada tahun baru ketika kamu tidak lagi memiliki waktu?

13 August 2004

saya mengurus kepulangan Ing

Maaf teman-teman, sekian bulan saya tidak mengurus ruang kecil saya di jagad maya ini. Saya tengah sibuk mengurus kepulangan Ing. Dia pergi lama dan jauh sekali, sehingga ada banyak hal yang harus saya siapkan menjelang kepulangannya. O, iya, kalian juga boleh memanggilnya Iwed. Saya senang memanggilnya Iw-iw. Sekarang dia sudah ada di rumah, di sini, di samping saya. Saya memintanya untuk tidak pergi lagi. Dia berjanji pada saya untuk tidak kemana-mana lagi. “Aku sangat merindukanmu. Dan, aku tidak ingin pergi lagi,” katanya seraya memeluk saya.

Begitulah, akhirnya saya serahkan sinar bulan yang saya curikan untuknya di malam-malam yang saya lewati seorang diri. Lama, saya simpan sinar itu di saku saya. Sekarang sinar bulan itu disimpan di saku bajunya, persis di sebelah jantungnya. Saya senang melihat sinar bulan itu acapkali berpendar di matanya. Ada rasa hangat yang menjalar di nadi saya tiap kali saya memandang mata itu.

Ing, kucurikan untukmu
sinar bulan tadi malam
jangan bilang siapa-siapa
aku menyimpannya di saku baju
persis di sebelah jantungku

Jika Tuhan mengijinkan, saya ingin segera membangun rumah di tepi telaga seperti sering ia bercerita. Saya pernah berjanji mendirikan rumah untuknya di sana. Juga saya pernah berjanji menanam bunga kembang sepatu di depan rumah itu.

Kami ingin menetap selamanya di rumah itu, menikmati semburat jingga pada setiap senja (selain hujan, saya mulai menikmati senja sekarang), membayangkan anak cucu kami tumbuh dan besar di sana. Tidak ada lagi kekosongan pada tiap senja yang jingga. Tidak cuma ada gelap pada langit malam. Tidak cuma ada dingin pada hujan yang jatuh di atas tanah.

Ing, ingin kubangun untukmu sebuah rumah
di tepi telaga seperti sering engkau bercerita

Juga ingin kutanam untukmu
bunga kembang sepatu
yang kan menyapamu
tiap kali kau membuka pintu

Kau buatkan kopi untukku, Ing
dan kita menikmati senja dari beranda rumah itu

01 June 2004

Saya Mencintai Puteri Bungsunya

Semalam, di atas motor, saya berbicara begini pada langit gelap. "Pak Narso, saya ingin bertemu Bapak. Jika Bapak berkenan, hadirlah dalam sebuah kesempatan yang membuat saya tidak takut." Saya membayangkan angin menyampaikan niat hati saya.

Kemudian malamnya saya bermimpi. Seorang lelaki setengah baya dengan rambut yang memutih menghampiri saya yang tengah duduk sendiri di sebuah taman. Saya belum pernah bertemu dengan orang tua ini. Saya hanya pernah melihat fotonya yang di gantung pada dinding kamar.

Dalam mimpi saya, orang tua ini mengenakan pakaian seperti jubah berwarna putih. Airmukanya segar. Seulas senyum yang damai disunggingkan ketika dia mengambil duduk di sebelah saya. Tanpa berbasa-basi saya katakan kepadanya betapa saya sangat mencintai puteri bungsunya. Dia hanya mengangguk, tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak saya sebelum sosoknya lenyap serupa kabut. Ketika saya bangun pagi hari, saya masih merasakan tangannya di pundak saya.