07 September 2008

Ngeblog Lagi Blogger Lagi

Adalah Kodja yang pertama kali memperkenalkan blog padaku di sekitar semester dua tahun 2003. Waktu itu blog belum sepopuler sekarang. Tapi Enda Nasution udah sangat ngetop. Segala hal tentang blog nyonteknya ke goblog media.

Untuk urusan desain blog pun masih amat njelimet, berkutat dengan rumus HTML. Untuk memasukkan sebuah gambar ke dalam blog rumusnya panjang. Belum ada flickr, picasa atau photobucket. Gambar ditaruh di hostingan gratis trus harus 'disamarkan' extensionnya jadi txt dan diutakatik hiperlinknya di html langsung.

Tapi, justru segala keribetan ini yang membuatku addict ngeblog. Sayangnya, bukan keribetan mengisi konten, tapi keribetan mengutak-atik desain dengan html. Lihat saja arsip yang terhitung selama lima tahun, miskin bukan...hehehe....blog ini rasanya lebih banyak berganti desain ketimbang update kontennya...:p

Begitulah kemudian ketika kenjlimetan html mulai bisa terpahami tidak ada lagi yang bisa membuatku bertahan bercengkerama dengan blog. Rumah maya ini terasa membosankan dan lambat laun tak terurus. Aktivitas blogging stop selama sekian tahun. Jaringan pertemanan maya yang kurintis dulu pun buyar. Daftar blog teman-teman yang dulu berderet-deret ikut lenyap bersamaan dengan bergantinya format blogger.

Meski tidak lagi ngeblog bukan berarti aku sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan dunia ini. Dalam beberapa kesempatan malah jadi pembicara tentang blog. Dalam beberapa kesempatan pula aku masih bersinggungan dengan komunitas blogger. Sementara sejumlah teman berulangkali mendorong agar aku aktif ngeblog lagi.

Setelah sekian tahun hidup segan mati tak mau akhirnya aku terprovokasi juga pengen ngeblog lagi. Rasanya kali ini bener-bener ingin menulis [juga pengen ngutak-ngatik desain karena caranya dah beda :p].

Aku sempat memutuskan pindah rumah ke Wordpress. Tapi, setelah utakatik di Wordpress akhirnya kuputuskan untuk kembali 'pulang' ke Blogger. Alasan utama karena Blogger menyediakan fitur posting by mobile phone, sementara worpress tidak membuka fitur itu untuk blog gratisannya.

Ya, begitulah semua ceritanya. Akhirnya ngeblog lagi dan blogger juga ujung-ujungnya.

06 September 2008

Trip to Babel (10)

Epilog: Babel Tidak Cuma Timah!

Hari sudah malam ketika pesawat Sriwijaya Air yang membawa kami dari Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka, mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tidak terasa tiga hari saya meninggalkan ibukota. Waktu berlari begitu cepat. Mendengar kata Bangka Belitung (Babel) di kepala saya tidak lagi terbayang timah.


Puas! Saya merasa menemukan sesuatu yang baru dalam perjalanan ini. Saya yakin sepuluh tahun ke depan jika saya kembali ke Belitung saya tidak lagi menemukan kesunyian di Pantai Tanjung Tinggi. Begitu pula, mungkin mobil kami tidak akan melaju dalam kelengangan menuju Sungai Liat di Bangka. Hanya menunggu waktu sampai Babel populer sebagai kawasan wisata. Apalagi, secara geografis provinsi muda ini letaknya sangat strategis di antara Jakarta dan Singapura.

Terjawab sudah pertanyaan saya di depan, adakah yang menarik dari Babel? Banyak! Suatu saat saya ingin kembali ke sana. Ada beberapa tempat yang tidak sempat saya sambangi dalam kunjungan kali ini. Listnya masih saya simpan untuk kunjungan berikutnya.

Babel layak masuk dalam daftar kunjungan Anda. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari Jakarta. Ciao!

(Selesai)

Trip to Babel (9)


Kesunyian yang Memikat di Pha Kak Liang

Dari Kampung Gedong kami kembali ke arah Kota Sungai Liat. Kurang lebih 3 km sebelum masuk kota minibus yang kami tumpangi berbelok ke kiri masuk ke jalan kecil berbatu. Kami menuju tempat wisata unik di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Namanya Pha Kak Liang. Lokasinya kurang lebih 2 km masuk ke dalam dari jalan utama.

Pha Kak Liang adalah kelenteng yang didirikan di kawasan bekas penambangan timah. Lubang bekas galian timah yang disebut kolong membentuk danau. Di tengah danau itu didirikan gazebo dengan jembatan berkelok-kelok yang menghubungkannya dengan daratan. Di sisi danau di permukaan yang lebih tinggi ada kelenteng kecil tempat ibadah.

Di danau seluas kurang lebih 2 ha hidup ratusan bahkan ribuan ikan mas, bawal darat dan nila. Konon ikan di danau itu ada yang besarnya mencapai satu meter. Terang saja, karena sejak bibit ikan ditebar pertamakali tahun 1995 tidak pernah satupun ikan-ikan itu boleh ditangkap.

Kawasan Pha Kak Liang ditandai dengan gerbang berupa gapura raksasa tak berpintu. Melihat gapura raksasa itu saya teringat biara shaolin dalam film-film kung fu. Suasana di tempat itu sangat tenang. Tempat ini dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun. Angin berhembus semilir. Daun-daun cemara dan akasia bergesekan membuat lagu alam di siang yang terasa teduh.

Kalau berkunjung ke sini jangan lupa membawa bekal makan siang. Tidak ada pedagang berjualan di sini. Siang itu di pinggir danau telah disediakan sejumlah makanan kecil pengganjal perut. Ada lakso, hidangan khas bangka berupa mie yang terbuat dari tepung beras dengan kuah kari berwarna kuning. Kali ini saya tidak tertarik sedikitpun dengan makanan. Seketika saya terobsesi dengan keheningan di Pha Kak Liang.

Beberapa teman tampak pula bergegas melintasi jembatan menuju gazebo di tengah danau. Kita bisa membeli makanan ikan berupa dedak yang dijual Rp 2000 per kantung plastik kecil. Tapi, ikan-ikan di Pha Kak Liang juga suka dengan nasi putih atau roti. Berbagi makanan dengan ikan-ikan itu sungguh menyenangkan. Mereka berebutan muncul di permukaan menimbulkan suara kecipak air.

Jika Anda tidak suka kesunyian Anda akan membenci tempat ini. Laiknya sebuah rumah doa Pha Kak Liang adalah tempat peristirahatan jiwa. Kesunyian di tempat itu memudahkan kita bertemu dengan diri sendiri. Konon, kata orang-orang suci, Tuhan hanya bisa ditemukan dalam kesunyian batin. Saya mengenang Pha Kak Liang sebagai kesunyian yang memikat.

(Bersambung)

_________________
Pha Kak Liang
Desa Kuto Panji
Kecamatan Belinyu
Kabupaten Bangka.

Trip to Babel (8)

Kampung Gedong, Diorama Hidup Kaum Migran Tiongkok

Sekitar 51 km dari kota Sungai Liat atau 90 km sebelah utara Kota Pangkal Pinang ada perkampungan tua yang dihuni masyarakat asli Cina. Kampung Gedong namanya. Sebanyak 50 kepala keluarga tinggal di kampung itu. Sejak tahun 2000 pemerintah daerah setempat menetapkan kampung tersebut sebagai desa wisata.

Selain Kampung Gedong, perkampungan asli masyrakat Cina juga ada di Parit Tiga Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupatan Bangka, sekitar 124 km dari Kota Sungai Liat. Pemukiman yang sama juga ada di daerah Kuto Panji, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, sekitar 54 km dari Kota Sungai Liat. Perkampungan Cina dan kebudayaan Cina yang berserakan di Bangka adalah catatan hidup dari sejarah eksplorasi timah di pulau itu.

Pada hari ketiga, sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan diri mengunjungi Kampung Gedong. Sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Sungai Liat kami tiba di depan sebuah gapura sederhana terbuat dari besi bercat biru muda. Di bagian atasnya terdapat tulisan “Selamat Datang di Desa Wisata Desa Gedong – Kec Belinyu”.

Di depan desa dekat gapura ada kuil kecil tempat pemujaan. Warnanya khas, merah menyala dengan ornamen kuning keemasan. Rumah-rumah tua dari kayu berdiri di kiri kanan jalan desa. Setiap rumah memiliki semacam meja kecil sesaji dengan wadah dupa di tiang pintu depan rumah. Di dalam rumah, di bagian depan yang menghadap ke pintu selalu ada meja sembahyang.

Suasana perkampungan itu sangat sepi dan tenang. Satu dua penghuni kampung tampak duduk di depan rumah menatap kami dengan pandangan menyelidik begitu rombongan kami beriringan masuk kampung.

Kampung Gedong adalah diorama hidup dari sejarah etnis Tionghoa di Bangka. Kehidupan di kampung ini mengambarkan kehidupan yang sama seabad silam ketika kaum migran dari Cina daratan berdatangan mengadu peruntungan sebagai penambang timah.

“Disebut Kampung Gedong karena di kampung ini ada rumah besar. Rumah gedong gitulah. Nanti kita melewati rumah itu,” jelas Elise, pemandu kami dari agen perjalanan setempat.

Yang disebut rumah gedong bukanlah rumah bertingkat dengan desain modern melainkan rumah besar berdinding kayu yang terlihat aus ditempa hujan dan panas matahari. Rumah itu memang paling besar di antara rumah yang lain. Di depan rumah ada plang bertuliskan “Dilarang Masuk”.

“Dulu kita boleh masuk melihat-lihat ke dalam rumah itu. Tapi, belum lama ada pengunjung yang main selonong masuk-masuk ke rumah tanpa permisi. Yang punya rumah marah dan tidak mau lagi rumahnya dimasuki orang luar,” jelas Elise lagi.

Masyarakat Tionghoa di Bangka Belitung adalah keturunan suku Ke Jia atau sering disebut orang Khe. Pada awal abad 18 mereka bermigrasi bedol desa dari Provinsi Guang Dong, Tiongkok. Kala itu orang-orang Suku Ke Jia terkenal sebagai penambang ahli. Sultan Palembang penguasa Bangka sengaja mendatangkan mereka untuk mengolah cadangan timah.

Mulanya yang datang ke Bangka Belitung hanyalah kaum lelaki pekerja. Mereka seperti kaum urban di Jakarta yang secara berkala mudik ke kampung halaman di Tiongkok sana. Banyak pula yang kemudian menetap dan menikah dengan gadis melayu. Keadaan ini terus berlangsung hingga abad ke-20.

Perlahan namun pasti jumlah migran Tionkok terus bertambah. Tidak lagi hanya kaum lelaki kaum wanita juga mulai berdatangan. Lama kelamaan terciptalah pola perkampungan yang unik. Masyarakat Bangka-Melayu yang sehari-hari hidup dari berkebun tinggal dekat sungai. Sementara warga Tionghoa selalu tinggal di sekitar lubang tambang timah.

Masyarakat di Kampung Gedong adalah keturunan enam bos timah yang dahulu menguasai penambangan di Parit 6. Kegemilangan para bos migran itu telah berlalu dimakan jaman. Kini kampung itu tidak lagi dikenal sebagai kampung penambang melainkan kampung penghasil kemplang.

Kemplang adalah sejenis kerupuk ikan yang banyak dibuat di Palembang dan tempat lain di Sumatera Selatan. Kemplang dibuat dari tapioka, ikan berdaging putih, dan bumbu-bumbu lainnya. Cara pembuatan kemplang cukup sederhana. Daging putih dari ikan digiling, dicampur dengan sedikit air dan bumbu, kemudian diaduk sampai rata dan khalis. Adonan yang dihasilkan dicetak, dikukus, dijemur dan dipanggang atau dijemur.

Entah bagaimana asal mulanya masyarakat di kampung ini beralih profesi menjadi pengrajin kemplang. Kami berjalan terus menuju belakang kampung. Kami memasuki salah satu rumah. Dari luar rumah itu tampak sepi. Rupanya aktivitas penghuninya terjadi di belakang rumah. Ada ruangan besar di bagian belakang yang terhubung dengan rumah induk. Dua orang perempuan setengah baya tampak menggiling tepung tapioka. Di sudut lain dua orang perempuan muda tengah membersihkan ikan.

“Jangan foto. Jangan foto,” salah seorang perempuan muda yang membersihkan ikan berkata sambil memberi tanda dengan tangannya ketika seorang anggota rombongan ingin mengambil gambar mereka. Elise berbisik pada saya yang juga membawa kamera. “Mereka tidak mau difoto. Jangan difoto ya. Nanti mereka marah.”

Saya urung megambil gambar. Saya hanya hilir mudik di dalam rumah tua itu. Ruang depan selain sebagai ruang tamu juga berfungsi sebagai ruang sembahyang. Ada televisi 14 inch di situ. Beberapa orang bocah terkikik menonton tayangan tivi. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Baru saya tahu kemudian dari Elise, masyarakat Kampung Gedong masih berbicara dalam bahasa Khe.

Beberapa teman, terutama para perempuan, berkerumun di ruang tengah yang berfungsi sebagai gudang. Jual beli kemplang berlangsung di ruang itu. Kami tidak lama di Kampung Gedong. Selesai urusan belanja oleh-oleh kami beranjak meninggalkan kampung.

Ketika berjalan keluar kampung ada yang menarik perhatian saya. Di beberapa rumah ada kain merah yang diselempangkan di atas daun pintu.
“Elise, kain merah itu ada artinyakah?” tanya saya.
“O, iya. Itu artinya ada anak gadis di rumah itu,” bisik Elise.

Ooo…Saya berusaha mencuri pandang tiap kali melewati rumah berselempang kain merah. Tapi, tidak pernah berhasil melihat anak gadis pemilik rumah. Ah, mungkin mereka malu dan bersembunyi di dalam kamar.

(Bersambung)

Trip to Babel (7)

Top of the Top: Buntut Ikan Tenggiri, Gangan dan Lempah

Sinar matahari Bangka begitu menyengat kulit ketika kami tiba di Pelabuhan Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, Bangka. Hari sudah lewat tengah hari. Perut sudah mulai keroncongan.

Di pintu pelabuhan kami melihat tiga orang perempuan muda cantik membawa kertas putih bertuliskan “Tour Jalansutra”. Aha, rupanya mereka pemandu kami selama di Bangka dari agen perjalanan setempat. Pintar nian Andrew mencari partner lokal.

“Kita ke Asui makan siang!” Andrew berteriak saat kami berjalan menuju mobil. Yup! Semua anggota rombongan sudah kelaparan siang itu.

RM Mr Asui terletak di tengah kota Pangkal Pinang, tepatnya di Jalan Kampung Bintang. Kami sempat bingung ketika minibus berhenti di ujung jalan di sebuah persimpangan. Elise, pemandu kami dari agen perjalanan lokal, memberitahu bahwa kami sudah tiba di RM Mr Asui. Kami turun dan melihat plang besar bertulis RM Mr Asui di ujung persimpangan. Namun rumah toko di bawah plang itu tutup.

Rupanya Mr Asui tidak terletak di pinggir jalan. Di sisi ruko yang tutup itu ada jalan kecil berupa gang. RM Mr Asui terletak di dalam gang itu. Ada tiga rumah makan dalam satu deret rumah yang saling berhubungan. Rumah-rumah itu beratap tinggi. Rumah pertama menjual babi panggang, rumah kedua seafood, rumah ketiga mie bangka. Tujuan kami adalah rumah makan yang di tengah, seafood. Mr Asui terkenal dengan seafoodnya.

Menurut Andrew menu makan siang kami sudah disiapkan. Betul saja, sebuah meja panjang sudah tersusun rapi dan lengkap dengan peralatan makan di atas meja. Kami segera memilih posisi. Tidak lama satu persatu makanan keluar. Tiga menu yang perlu dicatat: buntut ikan tenggiri bakar, kepiting saus padang dan tiram serta lempah kuning dan nanas.

Andrew menjelaskan, buntut ikan tenggiri Mr Asui sengaja dipilih sebagai santap siang di hari kedua karena menu ini dipandang sebagai top of the top menu sepanjang wisata kuliner kami. Hidangan ini diolah dengan sangat sederhana, tapi disajikan secara provokatif. Buntut ikan tenggiri sepanjang kurang lebih 30 sentimeter berdaging tebal disajikan utuh lengkap dengan sirip di bagian ekor. Bagian tengahnya disayat lalu dipanggang begitu saja. Dagingnya fresh. Gurih sekali. Dicocol dengan sambal terasi khas bangka, hmmm…yummy….

Olahan kepitingnya juga unik. Seperti lazimnya, potongan-potongan kepiting ditaruh di atas piring besar ditaburi saus. Yang agak berbeda adalah racikan bumbu sausnya. Bumbu saus tiram dan padangnya berbeda dengan Jakarta. Mr Asui lebih manis. Ini yang khas dari Bangka Belitung, olahan bumbu rempahnya selalu diwarnai rasa manis yang dominan dengan pedas di belakang.

Berikutnya lempah kuning dan nanas. Nah, ini dia yang spesial dari Bangka Belitung. Pernah dengar gangan? Apa beda lempah dan gangan? Saya berjanji menuliskannya untuk Anda. Gangan dan lempah adalah sebutan yang berbeda untuk sup ikan khas Bangka Belitung. Gangan populer di Belitung sementara lempah di Bangka. Tampilan keduanya mirip gulai tapi tidak bersantan. Kuahnya agak bening. Rasanya asam manis pedas.

Di RM Mabai, Tanjung Tinggi, kami mencicipi gangan. Isinya kepala ikan ketarap yang berlemak. Gangan khas Belitung dimasak dengan nanas dengan bumbu kemiri, kunyit, lengkuas, cabe dan asam. Sementara di RM Mr Asui kami disajikan dua pilihan lempah kuning dan nanas. Lempah kuning dimasak tanpa nanas berisi ikan pari yang dipotong kotak-kotak. Sementara, lempah nanas dimasak dengan nanas dengan potongan ikan bawal di dalamnya. Lempah nanas lebih manis dibanding lempah kuning. Mungkin Mr Asui menggunakan nanas madu.

Lantas apa bedanya gangan dan lempah? Setelah mencicipi keduanya, menurut saya, gangan di Belitung lebih berani bumbunya. Strong spicy. Kuahnya lebih kental. Sementara lempah lebih lembut dengan kuah lebih bening. Menyantap gangan dan lempah samar-samar saya teringat rasa sayur asam sunda.

Mana yang lebih enak? Tergantung selera. Sebagian suka lempah kuning, sebagian lagi suka lempah nanas. Saya sendiri sangat terkesan dengan gangan di RM Mabai Tanjung Tinggi. Rasanya lebih gahar!

Bermalam di Sungai Liat

Usai menandaskan seafood Mr Asui kami menghabiskan siang dengan mengunjungi penjual babi panggang khas bangka di depan Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka. Ada beberapa penjual di sana. Yang unik mereka berjualan di atas motor. Di sadel belakang motor ada kotak besar tempat gelondongan babi panggang. Tutup kotaknya berfungsi sebagai talenan untuk memotong-motong gelondongan babi sesuai pesanan. Babi panggang khas belitung memang juara. Kulitnya garing sementara dagingnya empuk dengan bumbu yang meresap jauh ke dalam daging.

Dari sana kami langsung menuju pusat penjualan oleh-oleh di belitung. Toko LCK di Jl Jend Sudirman, pusat kota Pangkal Pinang. Toko ini menjual macam-macam oleh-oleh khas Bangka. Sebagian besar adalah kerupuk bangka yang khas terbuat dari ikan. Yang lain daripada yang lain adalah rusip, teri mentah yang difermentasikan. Biasanya rusip digunakan untuk bumbu tapi juga bisa langsung dimakan. Toko ini juga menjual teripang yang sudah dikeringkan. Harganya bisa menjebol kantong. Di almari khusus tempat memajang teripang tertera keterangan enam sampai delapan ekor teripang harganya Rp 2.400.000. Wow!

Selanjutnya setelah memesan oleh-oleh kami meluncur ke Sungai Liat. Kami bermalam di Hotel Parai. Hotel Parai terletak persis di tepi pantai. Kalau pantai Tanjung Tinggi terbuka untuk umum, Pantai Parai hanya bisa dinikmati oleh mereka yang menginap di hotel itu. Pantai ini tak kalah indahnya dengan Tanjung Tinggi. Namun saya merasa tidak ada yang istimewa di sini. Mungkin karena terlalu banyak orang. Saya terus terkenang kesunyian di Tanjung Tinggi.

(Bersambung)

________________________
RM Asui
Jl Kampung Bintang
Kel. Bintang Dalam RT 12/93
Pangkal Pinang, Bangka
Telp: (0717) 423772

RM Mabai
Jl. Pantai Tanjung Tinggi
Belitung
Telp : (0719) 24338

Toko Oleh-oleh LCK
Jl Jend Sudirman No. 30
Pangkal Pinang, Bangka
Tel: (0717) 424163

Hotel Parai Indah
Jl. Pantai Parai Tenggiri
Sungailiat - Bangka
Telp. (0717) 9488, 9401

Trip to Babel (6)

Menyeberang Selat Gaspar

Kami hanya semalam menginap di Lor-In. Setelah puas mencumbui sunyi di Tanjung Tinggi pagi-pagi benar kami segera meluncur ke pelabuhan Tanjung Pandan untuk menyeberang Selat Gaspar menuju Pulau Bangka.

Ada catatan yang tersisa di Belitung tentang gangan. Kami menikmatinya sebagai santap malam di RM Mabai. Ijinkan saya menyimpan ceritanya sampai saya bertemu lempah di Bangka. Gangan dan lempah serupa tapi tak sama. Keduanya adalah yang khas dari Belitung dan Bangka.

Pukul 06.00 wib. Matahari belum sepenuhnya muncul. Sinarnya di ufuk timur membias menembus gumpalan awan kelabu di langit. Kabut masih menyelimuti dedaunan ketika minibus kami meluncur kembali ke Tanjung Pandan melintasi jalan yang sepi. Kami memang harus bergegas mengejar Kapal Express Bahari yang berangkat pk 07.00 wib melintasi Selat Gaspar menuju Bangka.

Kami tidak boleh terlambat. Jika kami ketinggalan kapal kami harus bermalam kembali di Belitung menunggu kapal esok pagi. Ya, pelayaran pagi Express Bahari menuju Bangka adalah satu-satunya jasa penyeberangan.

Kami tiba di pelabuhan pukul 06.45 wib. Kapal cepat berkapasitas kurang lebih 200 orang sudah menunggu. Tidak banyak penumpang pagi itu. Hampir separuh bangku kosong. Wah, jadwal keberangkatan ternyata molor. Kapal baru melepas sauh pukul 07.30 wib. Di atas kapal kami sempat menikmati lemper bakar sambal lingkung. Seorang ibu menjajakannya. Andrew membelinya sebagai bagian dari paket santapan yang kami nikmati dalam wisata ini. Lemper bakar ini rasanya gurih. Aroma bakar dari daun pisang yang membungkus lemper bercampur gurih sambal lingkung menjadi citarasa yang khas.

Perlahan kapal keluar dari teluk pelabuhan. Setelah keluar dari teluk seketika kapal menambah kecepatan. Udara cerah meski lagi-lagi langit di atas kami berwarna kelabu. Sampai hari kedua kami tidak berjumpa langit biru. Laut juga tenang pagi itu. Riak-riak putih berlompatan membuih di belakang kapal yang melaju cepat membelah laut. Hampir semua anggota rombongan tertidur di dalam kabin penumpang yang berpendingin udara. Hitung-hitung balas dendam karena harus bangun pagi-pagi.

Ada catatan penting yang harus Andan ingat jika melintas Selat Gaspar dengan kapal cepat ini. Rencanakanlah aktivitas yang ingin Anda kerjakan di atas kapal karena waktu yang harus ditempuh melintas selat ini adalah empat jam. Membawa bahan bacaan adalah pilihan yang baik.

Saya sempat tertidur satu jam. Selebihnya saya memilih duduk di dek menikmati laut lepas. Angin berhembus sangat kencang. Matahari terus meninggi dan panasnya makin menyengat. Di tengah laut kami menjumpai beberapa kapal nelayan mencari ikan.

Bajak laut

Di masa silam perairan ini adalah wilayah rawan. Banyak bajak laut berkeliaran. Potongan-potongan film Pirates of The Carribean timbul tenggelam dalam benak saya.

Selat Gaspar adalah bagian dari wilayah perairan Sumatera yang sejak dulu kala menjadi pusat lalu lintas perdagangan dunia. Pada masa itu perairan ini adalah jalur penghubung antara negeri di atas angin (sub benua India, Persia dan Arab) dengan negeri di bawah angin (nusantara) dan Asia Timur (Cina).

Tidak ada catatan yang mengungkapkan kerajaan tertentu di pulau ini. Catatan yang ada selalu menyebutkan bahwa kepulauan Bangka Belitung silih berganti dikuasai oleh kerajaan-kerajaan nusantara juga komplotan bajak laut. Kerajaan yang pernah menguasai Bangka Belitung adalah Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Mataram, Banten dan Kesultanan Palembang. Kerajaan-kerajaan itu berkepentingan menguasai perairan ini karena keberadaan bajak laut sangat mengganggu aktivitas perdagangan.

Sriwijaya adalah kerajaan pertama yang menguasai kepulauan ini. Hal ini ditunjukkan oleh prasasti Kota Kapur yang ditemukan oleh JK Van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Dusun Kota Kapur, Desa Pernagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Desember 1892. Prasasti di atas tunggul batu itu berisi kutukan bagi mereka yang tidak taat kepada Raja Sriwijaya.

Setelah kekuasaan Sriwijaya melemah, Sultan Johor dan sekutunya, Raja Alam Harimau Garang, menyerang Bangka untuk membasmi bajak laut. Kesempatan ini juga digunakan untuk menyebarkan agama Islam di kepulauan ini. Perlahan peradaban Islam menggantikan peradaban Hindu di kepulauan ini.

Seiring melemahnya Kerajaan Johor bajak laut kembali bersarang di kepulauan ini. Kapal-kapal saudagar yang membawa barang-barang niaga dirampas dan dirampok. Begitu mengganggunya keberadaan bajak laut di kepulauan ini sampai-sampai Sultan Banten mengirim pasukannya ke Bangka membasmi bajak laut.

Untunglah saya melintasi selat ini di abad 21. Tidak ada lagi bajak laut. Ah, tidak terasa pelabuhan Pangkalan Balam, Pangkal Pinang, Bangka, sudah terlihat di depan mata. Banyak perahu-perahu besar bersandar di sana. Saya bergegas turun ke ruang penumpang mengemasi bawaan.

(Bersambung)