.....
I have no idea
.....
28 April 2004
14 April 2004
tidak ada judul
aku tidak mempunyai judul untuk postingan kali ini. seperti halnya, aku tak menemukan judul untuk sepenggal kisah yang ingin kuceritakan. aku tidak tahu apakah kami duduk di beranda rumah yang sama. kehangatan yang diberikannya setiap sore menelurkan kerinduan untuk selalu mengulangi ritual-ritual yang sama: duduk di samping jendela, menghisap rokok, dan bercerita tentang kisah-kisah sepanjang siang.
entah siapa yang menciptakan sepotong cerita yang kami tidak tahu bentuknya ini. percayalah, aku tidak pernah mempretensikan semua ini terjadi. serpihan-serpihan cerita ini datang satu per satu, terbang dibawa angin, dan hinggap di pangkuanku. percayalah, tidak ada api yang membakar dan hasrat yang memburu. tiba-tiba saja muncul bara dan kehangatan itu menjalar di batinku.
sejak awal aku selalu mengatakan, ini cuma sebentar. ini cuma perhentian melepas penat. jika saatnya tiba, entah kapan, kami akan pergi lagi sendiri-sendiri. aku mungkin ke utara. dia mungkin ke selatan. aku tidak ingin berharap bahwa kami akan melanjutkan perjalanan ini berdua, seperti halnya aku tidak pernah berharap bahwa kami akan bertemu di perhentian ini. angin yang membawa cerita ini datang, biar pula angin yang membawanya pergi.
entah siapa yang menciptakan sepotong cerita yang kami tidak tahu bentuknya ini. percayalah, aku tidak pernah mempretensikan semua ini terjadi. serpihan-serpihan cerita ini datang satu per satu, terbang dibawa angin, dan hinggap di pangkuanku. percayalah, tidak ada api yang membakar dan hasrat yang memburu. tiba-tiba saja muncul bara dan kehangatan itu menjalar di batinku.
sejak awal aku selalu mengatakan, ini cuma sebentar. ini cuma perhentian melepas penat. jika saatnya tiba, entah kapan, kami akan pergi lagi sendiri-sendiri. aku mungkin ke utara. dia mungkin ke selatan. aku tidak ingin berharap bahwa kami akan melanjutkan perjalanan ini berdua, seperti halnya aku tidak pernah berharap bahwa kami akan bertemu di perhentian ini. angin yang membawa cerita ini datang, biar pula angin yang membawanya pergi.
08 April 2004
........
sepi yang menggigit jantungku
seperti pisau
yang kau tancapkan
pada urat nadiku
(Ia merasa sedih, takut, dan kesepian.
"Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya."
"Ya Bapa, jika Engkau berkenan, biarlah cawan ini berlalu daripadaku; tetapi bukan menurut kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.")
-Kamis Putih yang sepi-
seperti pisau
yang kau tancapkan
pada urat nadiku
(Ia merasa sedih, takut, dan kesepian.
"Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya."
"Ya Bapa, jika Engkau berkenan, biarlah cawan ini berlalu daripadaku; tetapi bukan menurut kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.")
-Kamis Putih yang sepi-
03 April 2004
kita harus share dengan Tuhan
Kita harus share dengan Tuhan. Ya, ada bagian-bagian dalam hidup ini yang harus kita share dengan Tuhan. Kita cuma bintang kecil dari sebuah ledakan besar. Meski kita bintang kecil yang hidup, itu gak boleh membuat kita sombong, karena toh kehidupan si bintang kecil itu juga datang dari-Nya. Terimakasih Tuhan, karena bintang kecil kau berikan ruang untuk ikut serta menggoreskan takdirnya sendiri.
Kita harus share dengan Tuhan, karena hidup tidak selalu menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kita seringkali berada pada titik-titik kehidupan di mana rasionalitas kita tidak mampu untuk memahaminya.
Kita harus share dengan Tuhan, karena selalu ada garis demarkasi atas kemanusiaan kita. Kita tidak bisa melewati batas garis itu. Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa ada ruang-ruang dalam hidup kita yang bukan merupakan kewenangan kita untuk menentukannya. Biarkan ruang-ruang itu tetap menjadi milik-Nya. Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak-Nya; dan berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar.
Dan kau, Ing, berdiri di seberang garis batas itu. Kau sunggingkan senyum dan rambutmu berkibar-kibar ditiup angin. Sosokmu serupa kabut di remang cahaya bulan.
Ing,...
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Sebaris doa tanpa asap dupa dan wangi bunga
Angin datang membawa cinta,
dan wajahmu mengendap di kepala
Ing,...
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Cuma sebaris doa
Semoga angin membawamu pulang
Dengan seikat bunga
Kita harus share dengan Tuhan, karena hidup tidak selalu menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kita seringkali berada pada titik-titik kehidupan di mana rasionalitas kita tidak mampu untuk memahaminya.
Kita harus share dengan Tuhan, karena selalu ada garis demarkasi atas kemanusiaan kita. Kita tidak bisa melewati batas garis itu. Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa ada ruang-ruang dalam hidup kita yang bukan merupakan kewenangan kita untuk menentukannya. Biarkan ruang-ruang itu tetap menjadi milik-Nya. Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi hak-Nya; dan berikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar.
Dan kau, Ing, berdiri di seberang garis batas itu. Kau sunggingkan senyum dan rambutmu berkibar-kibar ditiup angin. Sosokmu serupa kabut di remang cahaya bulan.
Ing,...
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Sebaris doa tanpa asap dupa dan wangi bunga
Angin datang membawa cinta,
dan wajahmu mengendap di kepala
Ing,...
Kusebut namamu dalam doaku tadi malam
Cuma sebaris doa
Semoga angin membawamu pulang
Dengan seikat bunga
22 March 2004
ini tentang mimpi, Jeng
Ini tentang mimpi, Jeng, tentang pil pahit yang enggan kita telan. Aku rasa kita semua punya pengalaman tentang mimpi dan pil pahit itu. Dan, aku tuliskan ini untukmu sambil menyeruput kopi. Pagi yang indah. Ada kupu-kupu hinggap di cangkir kopiku.
Tentang pil pahit itu, Jeng, kita mungkin mengatakan bahwa kita telah menelannya, tapi kita tahu bahwa kita masih menyimpannya di balik lidah. Apakah batas dunia mimpi dan kenyataan itu, Jeng? Batasnya adalah kejujuran pada diri sendiri. Kamu pasti tidak suka. Aku juga tidak suka. Entah kenapa kehidupan selalu merangkai kejujuran pada bingkai yang perih. Tapi, kita tidak bisa berhenti. Matahari tetap terbit besok pagi.
Tentang mimpi itu, Jeng, aku katakan padamu bahwa aku pernah enggan bangun dari tidur panjangku. Usai kamu menutup telepon, aku membongkar lagi catatan harian dari masa lalu. Buku bersampul hitam di pojok lemari, aku masih menyimpannya. Ya, aku masih menyimpan seluruh catatan-catatan yang kugoreskan sejak aku SMA.
Tentang buku bersampul hitam itu, aku menemukan tulisan ini di salah satu lembarannya yang mulai menguning. Aku kutipkan untuk kamu cerita tentang mimpi, tentang keengganan untuk bangun meski hari sudah siang.
Ketika kita memilih untuk bermimpi, kita enggan membuka jendela kamar kita. Padahal, kalau saja kita mau membuka jendela, dunia ternyata tidak sesempit kamar kita yang pengap. Di balik jendela, di kebun depan rumah, ada bunga mawar yang tengah mekar. Pada kelopaknya ada tetes air bekas hujan semalam.
6 Maret 2003
Aku takut Dien. Malam ini aku takut. Dan, aku tahu kamu hanya akan mencibiri ketakutan itu. Apakah aku berdoa agar ketakutan itu tidak terjadi? Tidak. Aku pasti berdoa agar ketakutankulah yang terjadi. Seperti pahlawan ya….klise! Dan, kamu akan menjawab, “Pret!” Begitulah, kamu akan berlari menjadi bayang-bayang yang jauh menghilang di balik ufuk.
Pernah gak, Dien, kamu mengalami keadaan dimana kamu sadar kalau kamu sedang bercengkerama dengan mimpi. Kamu sadar betul kalau itu adalah kebodohan dan kesia-siaan, tapi kamu tetap memilih berada dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Karena, buatmu itu adalah saat-saat paling indah dalam hidup kamu. Setiap hari, kamu gak mau mengakhirinya; kamu gak mau bangun dari mimpi kamu. Pernah gak kamu mengalami kamu merasa bahagia dengan kebodohan dan kesia-siaan. Kamu mengorbankan nyaris seluruh hidup kamu dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Lucunya, kamu menjalaninya dengan sadar.
Begitu, Jeng, sebuah catatan tentang satu hari di masa lalu….Itu sinar matahari menunggu di depan pintu….Kamu masih enggan bangun?
Tentang pil pahit itu, Jeng, kita mungkin mengatakan bahwa kita telah menelannya, tapi kita tahu bahwa kita masih menyimpannya di balik lidah. Apakah batas dunia mimpi dan kenyataan itu, Jeng? Batasnya adalah kejujuran pada diri sendiri. Kamu pasti tidak suka. Aku juga tidak suka. Entah kenapa kehidupan selalu merangkai kejujuran pada bingkai yang perih. Tapi, kita tidak bisa berhenti. Matahari tetap terbit besok pagi.
Tentang mimpi itu, Jeng, aku katakan padamu bahwa aku pernah enggan bangun dari tidur panjangku. Usai kamu menutup telepon, aku membongkar lagi catatan harian dari masa lalu. Buku bersampul hitam di pojok lemari, aku masih menyimpannya. Ya, aku masih menyimpan seluruh catatan-catatan yang kugoreskan sejak aku SMA.
Tentang buku bersampul hitam itu, aku menemukan tulisan ini di salah satu lembarannya yang mulai menguning. Aku kutipkan untuk kamu cerita tentang mimpi, tentang keengganan untuk bangun meski hari sudah siang.
Ketika kita memilih untuk bermimpi, kita enggan membuka jendela kamar kita. Padahal, kalau saja kita mau membuka jendela, dunia ternyata tidak sesempit kamar kita yang pengap. Di balik jendela, di kebun depan rumah, ada bunga mawar yang tengah mekar. Pada kelopaknya ada tetes air bekas hujan semalam.
6 Maret 2003
Aku takut Dien. Malam ini aku takut. Dan, aku tahu kamu hanya akan mencibiri ketakutan itu. Apakah aku berdoa agar ketakutan itu tidak terjadi? Tidak. Aku pasti berdoa agar ketakutankulah yang terjadi. Seperti pahlawan ya….klise! Dan, kamu akan menjawab, “Pret!” Begitulah, kamu akan berlari menjadi bayang-bayang yang jauh menghilang di balik ufuk.
Pernah gak, Dien, kamu mengalami keadaan dimana kamu sadar kalau kamu sedang bercengkerama dengan mimpi. Kamu sadar betul kalau itu adalah kebodohan dan kesia-siaan, tapi kamu tetap memilih berada dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Karena, buatmu itu adalah saat-saat paling indah dalam hidup kamu. Setiap hari, kamu gak mau mengakhirinya; kamu gak mau bangun dari mimpi kamu. Pernah gak kamu mengalami kamu merasa bahagia dengan kebodohan dan kesia-siaan. Kamu mengorbankan nyaris seluruh hidup kamu dalam kebodohan dan kesia-siaan itu. Lucunya, kamu menjalaninya dengan sadar.
Begitu, Jeng, sebuah catatan tentang satu hari di masa lalu….Itu sinar matahari menunggu di depan pintu….Kamu masih enggan bangun?
16 March 2004
aku kehujanan
Selamat pagi, Jeng. Tadi malam aku kehujanan. Angin kencang, udara dingin, dan aku menggigil di jalanan. Aku membayangkan kamu memelukku dari belakang. Kau sandarkan kepalamu pada punggungku, Jeng, lenyap angin dan udara dingin. Sampai di rumah, aku tidak mandi. Aku takut kehangatan itu pergi. Bersama pelukmu dalam diam aku tidur sampai hari pagi. Terimakasih, Jeng, telah menemaniku tadi malam.
Subscribe to:
Posts (Atom)