06 September 2008

Trip to Babel (5)

Waktu Berhenti di Tanjung Tinggi

Usai melihat pabrik sambal lingkung Freddy Boen, kami menikmati santap siang di RM Pribumi di kota Tanjung Pandan. Ini rumah makan melayu dengan hindangan khas bersantan. Menunya udang berbumbu merah dengan tomat-tomat kecil utuh, cumi bersantan berwarna kuning, orek tempe, krecek bersantan kental, tongkol goreng. Melihat fisiknya saya mengira udang dan cuminya pasti pedas. Ternyata tidak! Kedua menu tersebut rasanya manis. Menu unggulan rumah makan ini adalah kepiting telur. Olahannya sederhana saja: cangkang kepiting dimasukan ke dalam telur yang sudah diaduk lalu digoreng. Rasanya pun sederhana, gurih sedikit asin. Menu ini cuma ada di RM Pribumi.

Usai santap siang kami meluncur ke Tanjung Tinggi. Di sana kami akan bermalam. Menurut cerita pantai Tanjung Tinggi amatlah elok seelok Dian Sastro yang selebritis itu. Dalam salah satu artikelnya di kolom Jalansutra Pak Bondan pernah menulis “Ke Belitung Tanpa Dian Sastro”. Pengambilan gambar untuk iklan sebuah sabun kecantikan yang dibintangi Dian Sastro diambil di pantai ini. Sabun kecantikan yang dibintangi bintang cantik diambil di tempat yang cantik. Alamak! Saya tidak ingin mengamini semua “provokasi” itu sebelum datang dan melihatnya sendiri.

Tanjung Tinggi terletak di bagian Utara Pulau Belitung. Jaraknya sekitar 24 km dari Tanjung Pandan dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Hujan deras menemani perjalanan kami ke sana.

Untunglah menjelang Tanjung Tinggi hujan berhenti. Kalau tidak bagaimana kami bisa menikmati pantai sebelum hari gelap. Jalanan lengang. Minibus kami meluncur deras menyusuri pinggir pantai. Dari jendela minibus saya bisa melihat bibir pantai berpasir putih di sela-sela rerimbunan semak di kiri jalan.

Kami tiba di Bungalow The Villa Lor-In sekitar pk 15.00 wib. Ini adalah satu-satunya resort terbaik di sini. Beberapa bagian bangunannya kurang terawat. Di sejumlah tempat alang-alang tumbuh tinggi tidak terpotong. Vila Lor-In terletak persis di depan pantai yang dipisahkan oleh jalan raya. Ada belasan cottage di tempat peristirahatan tanpa pagar ini.

Tempat ini sepi. Sunyi. Kita bisa mendengar suara serangga di siang hari. Selesai membereskan barang bawaan di kamar, kami segera meluncur ke Pantai Tanjung Tinggi yang jaraknya sekitar dua kilometer dari Lor-In.

Wow! Pantai yang perawan. Rombongan kami adalah satu-satunya kerumunan di tempat itu. Pasirnya putih halus. Andrew tidak menipu saya ketika bercerita tentang pasirnya yang sehalus tepung terigu. Pantai ini tenang sekali seperti puteri yang sedang lelap tertidur. Tidak ada debur ombak di airnya yang jernih memantulkan biru langit. Sungguh, Tanjung Tinggi adalah keindahan yang tersembunyi. Saya bisa mengerti kenapa Dian Sastro dipadukan dengan pantai ini.

Di sepanjang sisi pantai ada banyak sekali batu granit besar-besar. Saya membayangkan betapa ajaibnya tangan-tangan besar yang menyusun batu-batu ini. Sejumlah tumpukan batu membentuk tebing kecil. Di bawahnya terdapat celah-celah serupa lorong yang bisa dilewati orang. Kami menyusuri celah-celah batu yang terendam air laut. Gerombolan ikan-ikan kecil sebesar ibu jari mencandai kaki kami.

Beberapa teman segera menceburkan diri ke dalam laut. Snorkeling. Lor-In menyewakan peralatannya. Tidak mahal. Hanya Rp 10 ribu. Saya memilih duduk di atas sebuah batu besar menikmati pemandangan lepas ke laut luas. Di tengah laut tampak beberapa perahu nelayan hilir mudik perlahan. Di bawah terdengar derai tawa teman-teman ditingkahi kecipak air.

Entah berapa lama saya duduk terdiam di atas batu besar itu. Ketika saya sadar saya tidak lagi mendengar kegaduhan. Pantai ini tiba-tiba sunyi. Saya melihat ke bawah. Teman-teman membentuk kelompok-kelompok kecil duduk di atas batu-batu besar. Di salah satu batu besar Irvan dan Andrew tampak tidur telentang.

Hari menjelang senja. Matahari turun di depan pandangan kami. Ah, sayang sekali, awan tebal menutup langit di ufuk barat yang mulai menguning. Sekelompok camar terbang di langit menari ditiup angin. Saya terus terdiam…kembali hilang… dan waktu berhenti di Tanjung Tinggi…

(Bersambung)

_____________________
The Villa Lor-In
Resor Belitung Indah - Tanjung Tinggi
Belitung 33451
Telp: (0719) 24100

Trip to Babel (4)

Sambal Lingkung, Sambal Tanpa Cabe

Di tengah jalan, saat hendak menuju Warung Kopi Ake, seorang enci tua menjajakan roti kepada rombongan kami. “Roti isi sambal lingkung,” jajanya. Hah! Roti isi sambal?! Ini yang khas dari Bangka Belitung. Sambal lingkung. Di sini sambal bukanlah ulekan cabe seperti di Jawa. Sambal lingkung adalah abon ikan. Namun, sulit bagi saya mempersepsikan kata sambal tanpa mengaitkannya dengan cabe. Roti isi sambal lingkung bukanlah roti berisi sambal ulekan cabe tapi berisi abon ikan.

Selepas meneguk kopi di Warung Kopi Ake kami melanjutkan perjalanan ke salah satu pabrik pembuat sambal lingkung di Belitung. Kami mengunjungi pabrik milik Freddy Boen di kawasan Pelempang Timur.

Laiknya kawasan pantai, tangkapan ikan di kawasan Bangka Belitung kadang tidak habis terjual. Aneka penganan lantas berkembang dengan ikan sebagai bahan dasar olahan. Di Palembang kita mengenal pempek sebagai salah satu makanan khas daerah itu yang diolah dengan bahan dasar ikan. Di Bangka dan Belitung ikan juga diolah menjadi terasi dan kerupuk. Nah, sambal lingkung adalah salah satu makanan hasil kreativitas olahan ikan.

Pabrik sambal lingkung Freddy Boen terletak di pinggir kota Tanjung Pandan. Yang disebut pabrik hanyalah bangunan persegi panjang dengan tiga tungku kayu bakar besar di dalamnya. Di atas masing-masing tungku terdapat dua wajan besar. Diperlukan sebuah dayung untuk mengaduk tumbukan ikan yang kelak matang menjadi sambal lingkung. Wangi ikan sudah tercium saat kami memasuki areal pabrik ini.

Membuat sambal lingkung ternyata tidak sulit. Ikan kakap atau tenggiri dibersihkan lalu dikukus sampai matang. Setelah itu tulang-tulangnya dibuang kemudian ditumbuk sampai halus. Bumbu yang disiapkan adalah santan kental yang digodok bersama bumbu-bumbu yang sudah digerus halus, kecuali serainya yang hanya pecah. Setelah mendidih masukkan daging ikan yang sudah ditumbuk halus tadi. Aduk terus sampai kering.

Di pabrik sambal lingkung Freddy satu wajan besar membutuhkan waktu pengadukan empat jam. Satu kilogram ikan hanya menghasilkan lima ons sambal lingkung. Sambal lingkung yang sudah matang akan berwarna coklat. Sambal lingkung sangat cocok untuk pelengkap makan roti pengganti selai atau dimakan sebagai lauk dengan nasi. Baunya wangi. Rasanya gurih. Nah, ini ada oleh-oleh resep sambal lingkung.

Bahan:
1. 1 kg ikan kakap/ tenggiri yang masih segar
2. 2 butir kelapa
3. 10 bungkul bawang merah
4. 2 bungkul bawang putih
5. 5 gr terasi
6. 10 butir kemiri
7. 2 batang serai
8. 5 lembar daun jeruk purut
9. 20 gr laos
10. 1 sendok makan gula
11. 1 sendok makan garame


Cara membuat:
1. Bersihkan ikan, buang sisik dan isi perutnya.
2. Kukus ikan sampai matang.
3. Setelah matang buang tulangnya dan tumbuk daging ikan sampai halus.
4. Parut kelapa lalu tambahkan air sedikit demi sedikit untuk menghasilkan santan kental sampai kira-kira 5 gelas.
5. Cuci bersih bumbu seperti bawang merah, bawang putih, terasi, dan lain-lain lalu tumbuk sampai halus. Serai cukup digepyak saja.
6. Masukkan bumbu yang sudah halus ke dalam wajan yang berisi santan kental, godok sampai mendidih. Aduk sesekali supaya santannya tidak pecah.
7. Campur daging ikan halus ke dalam santan berisi bumbu. Aduk terus sampai adonan kering berwarna coklat.


(Bersambung)

Trip to Babel (3)

Mie Belitung dan Secangkir Kopi Ake

Di Belitung ada dua kedai mie yang sering disebut-sebut: Kedai Mie Acu dan Atep. Tour Kuliner Jalansutra memilih Mie Atep sebagai santapan pagi kami. Andrew tidak sedang bercanda ketika meminta kami menebak yang manakah Kedai Mie Atep.

Ada banyak ruko di sepanjang Jl Sriwijaya, Tanjung Pandan, Belitung. Tapi, kami tidak menemukan tulisan “Atep” di ruko-ruko itu. Andrew menunjuk satu ruko yang di depannya terpampang beberapa kain spanduk voucher telepon seluler. Setelah menghampiri ruko itu kami baru yakin bahwa itu memang kedai mie bukan kios penjual voucher.

Begitu menemukan kedai mie rombongan langsung menyerbu masuk. Melihat ada pelanggan berbondong-bondong si Enci penjual mie tergopoh-gopoh menyiapkan piring. Selain menjual mie kedai ini juga menyajikan nasi tim ayam.

Mie Belitung berbeda dengan Mie Bangka. Meski sama-sama masakah peranakan Mie Belitung tidak menggunakan babi. Bentuk mie-nya tebal disajikan bersama tauge, irisan tahu, irisan kentang, irisan bakwan dan ketimun dengan toping emping melinjo. Di atas mie disiramkan kuah kental rebusan udang berwarna coklat. Rasanya…hmmm….manis, asam, gurih, dengan wangi udang.

Ada minuman khas Bangka Belitung yang hampir selalu ada di setiap kedai makanan. Minuman ini begitu lazimnya seperti es jeruk di Jakarta. Namanya jeruk kunci. Jeruk kunci adalah jeruk kecil sebesar jeruk nipis. Rasanya asam. Biasanya 4-6 jeruk kunci dipadu dengan gula putih. Di tambah es minuman ini segar sekali untuk hawa Tanjung Pandan yang panas.

Tidak lama-lama kami di sana. Sepiring Mie Belitung Atep menjadi pembuka rangkaian tour kuliner kami. Good! Menu pembuka yang nikmat.

Secangkir Kopi Ake

Setelah menandaskan sepiring mie kami melanjutkan pagi di Tanjung Pandan dengan mengunjungi kedai kopi Ake. Letaknya tidak jauh dari kedai mie Atep. Kami berjalan beberapa ratus meter melingkar ke belakang deretan ruko. Di belakang ruko itu terdapat Pasar Tanjung Pandan. Warung kopi Ake terletak di tengah pertokoan di pasar itu.

Di antara bangunan toko berdinding kusam yang sebagian catnya megelupas ada sepetak pelataran. Di salah satu sisinya ada dua warung kopi. Cirinya khas. Ada banyak gelas di depan warung itu. Bangunannya jauh dari bagus. Beberapa bagian dinding warung itu gompal. Sementara atapnya dari seng yang sebagian sudah berkarat berwarna coklat tua kehitaman.

Di depan warung itu ada meja-meja kecil. Sebagian meja kayu sebagian lagi meja bundar dari semen. Jika ingin duduk di dalam juga ada meja panjang yang menempel di dinding.

Di Belitung, seperti halnya kebudayaan pesisir di Sumatera, orang minum kopi bukan sekadar menikmati kopinya. Jauh lebih penting dari rasa secangkir kopi adalah interaksi sosial dalam momen minum kopi itu. Maka minum kopi di kedai kopi akan kehilangan makna kalau kita menikmatinya sendirian. Berbeda dengan kedai kopi ala Starbucks di Jakarta dimana orang datang sendiri lalu membuka laptop.

Dalam tradisi Melayu pesisir minum kopi adalah momen berbagi cerita dan informasi. Juga momen untuk diskusi. Tak heran kalau menghabiskan secangkir kopi bisa mamakan waktu berjam-jam.

“Kalau Anda mau tahu ada apa di Belitung hari ini, tidak perlu membeli koran. Datang saja ke kedai kopi. Semua informasi akan Anda dapatkan di sana,”jelas Kusumah, pemandu perjalanan kami dari agen perjalanan setempat.

Kawasan warung kopi Ake dikenal dengan sebutan Kafe Senang. Entah darimana asal-usul itu. Dari dulu sudah disebut demikian. Warung kopi Ake sendiri sudah ada di tempat itu selama empat generasi. Warung itu kini dijaga oleh Akiong (53) anak Ake (75) yang sekarang tinggal di Jakarta. Warung kopi ini pertamakali didirikan oleh kakek Ake. Akiong tidak tahu tahun berapa persisnya warung kopi ini berdiri.

Baik di Bangka maupun Belitung secangkir kopi disajikan dengan cara yang khas. Bubuk kopi tidak dituang satu-satu ke masing-masing gelas melainkan diaduk dalam sebuah gelas besar. Dari gelas besar itu kopi dituangkan ke dalam gelas dengan saringan berbentuk seperti kaos kaki. Dengan cara ini ampas kopi tidak ikut dalam gelas yang disajikan kepada pelanggan.

Saya pernah minum kopi di beberapa kedai kopi di Jambi, Palembang, Medan dan Lhokseumawe. Dengan kadar kekentalan yang berbeda citarasa kopinya sama. Robusta. Di warung Ake kopi yang disajikan tidak terlalu pekat, meski warnanya hitam. Selain panas kopi di sana juga lazim disajikan dingin dengan es atau dicampur susu kental manis.

(Bersambung)

_______________
Mie Belitung Atep
Jl Sriwijaya 27, Tanjung Pandan, Belitung

Warung Kopi Ake
Di tengah Pasar Tanjung Pandan, Belitung
(tanya saja Warung Kopi Ake, semua orang di sana tahu)

Trip to Babel (2)

Belitung, Surga yang Ditinggalkan

Belitung tidak jauh dari Jakarta! Ya, betul, tidak jauh. Hanya 45 menit penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Waktu tempuh menuju Belitung jauh lebih singkat dibanding perjalanan saya pulang kantor dari Palmerah menuju Bekasi yang harus ditempuh selama 90 menit.

Pukul 08.00 wib saya sudah tiba di Belitung. Mata saya masih terkantuk ketika roda Sriwijaya Air yang membawa 30 anggota rombongan tour kuliner Jalansutra mendarat mulus di Bandara HAS Hanandjoeddin, Belitung. Di luar cuaca cerah menyambut kedatangan kami. Sejumput awan kelabu menggantung di ufuk barat menutup langit biru. Selamat datang di Belitung.

Belitung adalah kabupaten kepulauan dengan 189 pulau besar dan kecil yang mengelilinginya. Wilayah seluas 34.496 km persegi ini terdiri dari 4.800 km persegi luas daratan dan 29.606 km persegi luas perairan. Secara geografis Kepulauan Belitung berbatasan dengan Laut Cina Selatan di sebelah utara dan Laut Jawa di selatan. Sementara di sebelah timur terdapat Selat Karimata yang memisahkan Belitung dengan Pulau Kalimantan dan di barat terdapat Selat Gaspar yang memisahkan Belitung dengan Pulau Bangka.

Bandara Hanandjoeddin adalah bandara kecil yang sepi. Kesibukan di bandara ini hanya terjadi di pagi hari. Sebab, lalulintas penerbangan menuju dan dari Belitung hanya ada pagi hari. Ada dua maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta-Belitung yaitu Sriwijaya dan Batavia Air. Setibanya dari Jakarta kedua maskapai ini langsung melayani penerbangan Belitung-Jakarta. Selepas itu bandara kecil ini kembali sepi.

Suasana bandara ini jauh berbeda dibanding dulu pada masa kejayaan timah Belitung di era tahun 80an. Hanandjoeddin tidak sesepi ini. Pada masa itu setidaknya ada empat maskapai penerbangan, Merpati, Deraya, Sempati, termasuk Garuda, hilir mudik di langit Belitung. Hanya berselang satu dekade lalu keriuhan Hanandjoeddin memudar seiring berlalunya kejayaan timah di wilayah ini.

Hanandjoeddin yang namanya diabadikan sebagai nama bandara adalah seorang penerbang yang menjadi bupati Belitung beberapa puluh tahun lalu. Sebelum Bangka dan Belitung melepaskan diri dari Sumatera Selatan Bupati Hanandjoeddin sudah mencetuskan gagasan tersebut. Ketika akhirnya Bangka Belitung menjadi provinsi pada 4 Desember 2000 Hananjoeddin sudah meninggal dunia. Karena jasanya dalam mengembangkan kota Belitung namanya diabadikan menggantikan nama bandara sebelumnya Buluh Tumbang.

Dari bandara kami langsung menuju Kota Tanjung Pandan yang jaraknya 14 km. Jalanan sepi. Minibus yang kami tumpangi melaju sendiri di jalan aspal yang mulus. Di kiri kanan jalan tampak rumah-rumah penduduk khas melayu berdinding kayu dengan panggung pendek dari semen. Seperti layaknya rumah-rumah di desa rumah-rumah di sana berdiri di tengah halaman luas dikelilingi pohon-pohon tinggi. Masing-masing rumah berjarak belasan meter.

Sepanjang perjalanan satu hal yang menarik perhatian saya adalah tanah di sana tertutup pasir putih. Saya tidak tahu persis, apakah pasir putih menutupi tanah atau memang tanahnya berwarna putih. Irvan Kartawiria, teman saya di Komunitas Jalansutra menjelaskan, warnah putih menandakan bahwa bumi Belitung kaya akan kandungan mineral.

Kurang lebih 30 menit kami memasuki kota Tanjung Pandan. Rumah-rumah penduduk tampak lebih rapat satu sama lain. Tanjung Pandan adalah kota yang lengang. Tidak banyak aktivitas kendaraan hilir mudik di jalan kota ini. Memasuki kota saya merasa aura kota yang kelabu. Kota ini begitu bersahaja untuk tidak menyebutnya tertinggal. Gedung-gedung di sepanjang jalan kota terkesan kumuh. Sukabumi jauh lebih modern dan bersih.

Kami berhenti di pusat kota di tengah pertokoan di kiri kanan jalan. Turun dari bis saya tercenung. Sulit membayangkan kekayaan isi perut bumi kota ini hanya menyisakan rumah-rumah beratap seng karatan berwarna coklat kemerahan.

“Sepi ya, Bang. Beda dengan Jakarta,” sapaan Kusumah, pemandu wisata kami dari agen perjalanan setempat, membuyarkan lamunan saya
“PT Timah sudah lama pergi. Jadi kotanya sepi,” lanjutnya seolah mengerti isi kepala saya.

Timah pernah menjadi primadona di kota berpenduduk 200 ribu jiwa ini. Penambangan timah di Belitung telah dimulai sejak tahun 1852 oleh perusahaan swasta Belanda Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton (GMB). Bersama Bangka isi perut Belitung menjadi gudang uang pemerintah Belanda yang kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Belitung seperti surga. Konon, timah di Belitung berserakan di atas tanah. Para penambang cukup mengayak tanah di permukaan untuk mendapatkan timah. Selama lebih dari satu abad industri timah merupakan penggerak utama perekonomian Belitung.

Tahun 1985 harga pasaran timah dunia mulai merosot. Kejayaan timah lambat laun memudar. Keadaan ini memaksa PT Timah, badan usaha milik negara yang bergerak dalam industri pertambangan timah di Indonesia mengadakan restrukturisasi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah membubarkan Unit Penambangan Timah Belitung (UPT-Bel) pada 29 April 1991.

Saya ingat dalam perjalanan dari bandara saya kerap melihat gundukan tanah bekas galian. Tidak ada aktivitas di bekas galian-galian itu. “Kami menyebutnya kolong. Itu lubang bekas galian timah oleh para penambang liar. Ada banyak kolong di Belitung maupun di Bangka. Lubang-lubang itu ditinggalkan begitu saja. Habis manis sepah dibuang,” jelas Kusumah sambil tersenyum.

Tapi, Belitung masih beruntung. Selain timah, pada wilayah seluas 550 hektar terdapat kandungan 85 juta ton kaolin. Mineral galian ini antara lain digunakan untuk bahan baku keramik, bahan pemutih kertas dan bahan pencampur pembuatan cat. Selain itu, juga sebagai bahan pencampur dalam industri bata tahan api.

Selain kaolin juga masih ada pasir kuarsa, pasir bangunan, dan tanah liat. Tetapi, mineral galian ini adalah bahan tambang yang sifatnya tidak bisa diperbarui. Setali tiga uang dengan timah, jika dikuras terus-menerus dikhawatirkan akan habis. Jika semua kekayaan tambang habis bisa jadi Belitung akan sepenuhnya ditinggalkan.

“Kita sarapan Mie Belitung! Coba cari warung Mie-nya yang mana,” tiba-tiba suara Andrew Mulianto membuyarkan lamunan saya. Jam di pergelangan tangan saya menunjuk pukul 08.38 wib. Mendengar suara Andrew saya mendadak lapar. Waktunya sarapan. Nah, ini surga yang lain di Belitung.

(Bersambung)

Trip to Babel (1)

Apa yang menarik dari Bangka Belitung? Babel (Bangka-Belitung) Mendengar nama itu, yang ada di kepala saya hanya tempat penambangan timah yang gersang, panas dan kotor.

“Eit, jangan salah! Daerah itu adalah salah satu tempat terindah di Indonesia yang tidak pernah terkeskspos,” Andrew Mulianto, teman saya dari komunitas Jalansutra menjelaskan.
“Pantainya,” lanjut Andrew, “wuiiiihhhhh,” dia mengangkat dua jempol tangannya.
“Pasirnya putih, halus seperti terigu,” promo dia.

Terus terang, Babel tidak pernah masuk dalam list tempat yang harus saya kunjungi. Tentang makanannya saya hanya tahu Martabak Bangka. Selebihnya yang saya tahu tentang Babel adalah timah dan lada putih. Dalam buku pintar yang isinya wajib dihapal ketika saya di sekolah dasar disebutkan, Pulau Bangka adalah penghasil timah terbesar di Indonesia. Selain itu, pulau tersebut juga dikenal sebagai pulau lada putih. Lada asal Bangka mashyur hingga mancanegara.

Menurut sejarah, nama Bangka berasal dari kata “wangka” yang artinya timah. Entah kapan pulai ini disebut Bangka, yang pasti kata “wangka” tertoreh pada prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di dekat Kota Kapur, Bangkat Barat, bertarikh 686 masehi. Biji timah sendiri baru ditemukan pertama kali di pulau itu sekitar tahun 1709 oleh orang-orang Jahore yang melakukan penambangan pertama di tepi Sungai Olin, Toboali.

Pada masa jayanya, tiga perempat cadangan timah di Indonesia berada di Pulau Bangka. Kini kejayaan timah akan menjadi masa lalu karena potensi yang tersisa makin menipis. Jangan kaget, di Pulau Bangka dan Belitung lubang-lubang bekas penggalian timah mencapai lebih dari 20 ribu hektar luasnya.

Pada tahun 2000 Bangka bersama Belitung dan beberapa kepulauan kecil di sekitarnya melepaskan diri dari Sumatera Selatan dan menetapkan diri sebagai provinsi sendiri. Selat Bangka memisahkan Sumatra dan Bangka, sedangkan Selat Gampar memisahkan Bangka dan Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Tiongkok Selatan. Sementara di selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Belitung oleh Selat Karimata.

Usai kejayaan timah, nampaknya Provinsi muda ini perlu mempromosikan diri lebih gencar tentang keelokan dirinya. Tentang Belitung, Bondan Winarno dalam salah satu artikel Jalansutra pernah menulis, konon pulau ini adalah patahan Pulau Bali, Balitong. Seorang ahli geografi Belanda menyebut Biliton. Lafal lidah Melayu kemudian mengucapkannya sebagai Belitung.

Andrew tidak berlebihan ketika mempromosikan pantai di kepulauan Babel ini. Beberapa referensi yang saya baca juga menyebutkan Babel terkenal dengan 3S: Sea (laut), Sand (pasir pantai), dan Sun (matahari). Pantai-pantai di Babel elok nian dengan pasir putih berhias taburan batu granit.

Ada lagi yang unik di sana. Di Bangka dan Belitung lubang-lubang sisa penambangan timah disebut kolong. Setidaknya ada lebih dari 1.000 kolong di Pulau Bangka dan Belitung. Luasnya beragam, dua hingga 50 hektar. Ada satu kolong yang terkenal di Pulau Bangka. Namanya Phak Kak Liang. Lubang besar bekas penambangan timah seluas kurang lebih dua hektar diubah menjadi tempat wisata. Dari Gazebo yang ada di tengah kolong kita bisa melihat ikan-ikan air tawar yang besar-besar hilir mudik. Panjang ikan-ikan itu banyak yang mencapai satu meter. Ikan-ikan itu tidak boleh dipancing.

“Kalau ingin makan ikan ada Seafood yang jempolan. Nanti saya beritahu,” janji Andrew. Banyak makanan enak jugakah di Provinsi muda ini? Soal makanan ternyata tidak hanya martabak Bangka. Ada lempah dan gangan. Untuk selera Belitung ada dodol agar, panpi goreng, sambelingkung, gangan ikan, kue rintak, mie rebus, terasi, tauco, rusip, dan genjer.

Jadi, adakah yang menarik di Bangka Belitung? Sssstttt....nanti saya ceritakan komplit. Saya harus berangkat dulu ke sana. Tidak jauh. Hanya 45 menit penerbangan dari Jakarta. Jangan kemana-mana, stay tune di MakPles!

01 May 2007

bening

bening. ya bening sekali. jernih. lepas dan jatuh ke bawah. sulit sekali mencari kebeningan hati belakangan ini. semua orang bicara dalam kekeruhan akalbudi dan mau menang sendiri. seandainya hari pagi bisa dipesan dan kejernihan ini bisa ditanam setiap hari aku mau pesan satu, ups...yang banyak untuk kubagi pada semua orang yang merindukan hati nurani.
Posted by Picasa