27 February 2009

Histeria di O2 World



Minggu lalu, Sylvia, pendamping kami di Berlin datang membawa pengumuman. “Hari Rabu depan ada pertandingan hockey antara Eisbaren Berlin melawan Adler Mannheim. Mau nonton gak?”

”Mauuuuu....,” sontak mayoritas teman-teman pada semangat.
”Her, lo harus nonton. Seru. Di negara lo gak ada kan hockey?” Zohaib teman saya dari Pakistan ngomporin saya untuk ikut. Hockey sih ada di Indonesia, tapi jauh dari populer. Di Indonesia yang populer itu sepak bola, meski gak ada prestasinya.

23 February 2009

Laskar Pelangi Bikin Orang Jerman Menangis

Film laris Laskar Pelangi karya sutradara Riri Riza mengundang isak tangis di CineStar Cubix Alexanderplatz, Berlin, Sabtu (14/2). Tidak hanya orang Indonesia di Berlin, sejumlah orang "bule" pun ikut tersentuh dan menitikkan air mata.

Laskar Pelangi, yang dialihbahasakan menjadi The Rainbow Troops, lolos seleksi dan tampil pada Festival Film International Berlin ke-59 atau Berlinale 2009. Film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata ini diputar di sejumlah gedung bioskop di Berlin, Jerman.

22 February 2009

Are you from Indonesia?










Ada yang menarik perhatian saya di loker apartemen ini. Ada tiga nama Indonesia tertera di sana. E Wulandari, Mulianakusumah, R. Soesman. Saya cuma membatin, ah pasti menyenangkan kalau bisa ketemu sama mereka. Orang-orang ini pasti kuliah di sini, pikir saya. Mereka tentunya tahu betul segala seluk beluk tinggal di kota ini. Tapi, gimana caranya ketemu mereka?

20 February 2009

Awas! Jangan Sampai Mati Kekenyangan di Berlin

Kenapa orang Eropa postur badannya besar-besar? Karena makannya banyak. Atau premisnya terbalik, kenapa orang Eropa makannya banyak? Karena anatomi tubuhnya besar-besar. Gak tau deh mana yang benar. Yang pasti porsi makanan di sini besar banget.

Di Berlin Doner Kebab sama populernya dengan Warteg di Jakarta. Kebab adalah makanan timur tengah yang dibawa imigran Turki ke sini. Pada era perang dingin ketika Jerman terbelah dalam blog timur dan barat, ribuan orang Turki berbondong-bondong datang ke Jerman Barat. Kala itu Jerman Barat kekurangan tenaga kerja. Saat ini populasi orang Turki di Berlin sekitar 120 ribu dari 3,5 juta populasi warga kota Berlin atau sekitar 2,9 persen.

12 February 2009

Urus trolimu sendiri

Sewaktu tiba di Bandara Tegel, Berlin, saya bingung gimana caranya ngambil troli. Troli-troli itu terkunci. Gimana cara ngelepasnya? Gengsi dan malu bertanya.….:) Beberapa hari kemudian barulah saya tahu bagaimana caranya melepas troli.

Kami belanja ke supermarket dan troli di sana sama persis dengan di bandara. Anda harus memasukkan koin 1 Euro ke dalam lubang grendel troli itu. Dengan kata lain, Anda harus deposit untuk menggunakan troli. Setelah selesai kembalikan troli pada tempatnya, grendel kembali troli dan 1 Euro anda akan keluar dari lubang grendel. Sangat efisien.

Untuk urusan troli pun sistemnya dirancang sedemikian rupa agar masing-masing orang bertanggungjawab terhadap troli yang digunakannya. Anda gak bisa meninggalkan troli di sembarang tempat. Silakan saja kalau Anda rela kehilangan 1 Euro. Dengan sistem ini tidak dibutuhkan troli boy.

Di Carrefour atau Giant di Indonesia ada petugas khusus yang mengumpulkan troli yang berceceran di mana-mana. Berapa cost yang harus dikeluarkan untuk menggaji sekian troli boy? Tapi, kalau sistem ini diterapkan di tanah air berarti Indonesia akan kehilangan satu lapangan pekerjaan…

Selain troli, di sini Anda juga harus bertanggungjawab terhadap belanjaan Anda sendiri. Di supermarket kantong plastik tidak gratis, kecuali di sejumlah toko kecil. Kalau Anda belanja di supermarket yang cukup besar Anda harus mengurus sendiri belanjaan Anda. Kasir cuma menghitung berapa harga belanjaan.

Tidak ada kantong plastik. Kalau Anda butuh kantong plastik ambil sendiri dan bayar di kasir lalu masukkan sendiri belanjaan Anda ke dalamnya. Yang paling baik bawa sendiri kantong belanjaan dari rumah, apakah tas dari kain atau kantong plastik besar yang Anda punya.

Untuk urusan plastik pemerintah di negeri ini punya komitmen konkret mengurangi polusi di perut bumi. Tidak cuma urusan kantong plastik, botol plastik pun diatur sedemikian rupa agar peredarannya bisa dikendalikan. Setiap minuman dalam botol plastik harga botolnya juga terhitung dalam harga minuman itu.

Setelah minuman habis, kalau Anda gak butuh botol itu, Anda bisa kembalikan ke kasir dan Anda dapat kembalian sekian sen. Jadi, kasir atau pemilik toko di sini juga sekalian jadi lapak botol plastik. Pemulung Indonesia bakal kehilangan mata pencarian di sini…

11 February 2009

Don’t leave your key inside

Di Berlin sebagian besar orang tinggal di apartemen. Mungkin cuma orang kaya yang punya rumah. Guesthouse kami pun sebuah apartemen di Selatan Berlin, sekitar 30 menit perjalanan menuju pusat kota (tanpa macet dan tanpa nunggu lama bis atau kereta).

Masing-masing dari kami menempati satu apartemen single, kira-kira 40 meter persegi luasnya. Di dalam apartemen dah tersedia komplit segala kebutuhan. Kamar mandi, tv, dan dapur kecil, lengkap dengan kompor, perlengkapan masak, piring gelas dan kawan-kawannya.

Pagi-pagi sekali bel kamar saya berdering. Joseph -kawan saya dari Uganda- berdiri di depan pintu dengan celana pendek.

”Hi Johanes, kamu punya setrika?” tanya Joseph
“Ada,” jawab saya.
“Pinjem donk!”
“OK.”

Gak sampe satu menit bel kamar saya kembali berdering. Si Joseph lagi di depan pintu. Setrika saya masih dipegangnya.

“Johanes, kamu masih simpen nomer pengelola apartemen?”
”Masih.”
“Liat donk,” Joseph masuk ke kamar saya.
“Johanes, tolong pinjem telepon kamu juga ya. Kunci saya ketinggalan di dalam,” wajah kawan dari Afrika ini tampak begitu cemas.

Hati-hati dengan kunci kamar. Jangan sekali-kali menutup pintu sementara kunci masih di dalam. Dari luar, pintu di apartemen ini hanya bisa dibuka dengan kunci. Jadi kalau kunci ketinggalan di dalam ya gak bisa masuk.

”Waduh apes banget sih gw,” Joseph menepuk jidatnya usai menelepon pengelola apartemen.
”Sorry Joseph, kali ini gw gak bisa bantu apa-apa,” saya mencoba bersimpati.
”It’s Ok Brother. It’s my fault,” Joseph mencoba tersenyum.
“Eh, ini setrikaannya. Gw gak jadi pinjem deh.”

Saya lalu bergegas mandi. Waktunya berangkat sekolah.

Waktu mau keluar apartemen saya bertemu Ririn di tangga.

”Mas, gile juga tuh Joseph. Pagi-pagi jogging,” ujar Ririn.
“Hah, jogging?!!!” tanya saya dengan penuh heran. Sedingin gini keluar apartemen jogging??!!
“Iya, gw ngeliat dia lari-lari di jalan. Kan kamar gw ngadep jalan,” tegas Ririn.

Di lantai bawah di depan pintu apartemen kami melihat Joseph di luar apartemen. Lelaki bergigi tanggal itu berlari-lari kecil. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya di depan dada. Pintu dan dinding bawah apartemen ini dari kaca. Jadi kami bisa melihat keluar.

”Joseph, ngapain lo di luar? Gak kedinginan?!” tanya saya dengan sangat heran sambil membuka pintu.
”Ah, Johaneessss….terima kasih,” Joseph segera masuk ke dalam apartemen.
“Saya cemas sekali karena kunci saya ketinggalan di dalam kamar. Jadi saya keluar menunggu pengelola apartemen. Saya lupa kalau saya gak punya kunci jadi gak bisa masuk lagi. Ya udah saya jogging aja…dingin eeeuuuyyy,” jelas Joseph.

Pintu masuk apartemen juga sama sitemnya, bisa dibuka dari dalam tanpa kunci, tapi dari luar harus menggunakan kunci. Pagi itu dingin sekali. Baju saya lapis tiga plus jaket kulit. Meski memakai sarung tangan kulit yang dalamnya berbulu tangan saya tetap merasa kedinginan. Ini Si Joseph cuma pakai celana pendek dan kaosan. Gak heran, dia memang harus jogging selama “tersandera” di luar.